Pulang di Antara Bayang dan Jarak
Kereta ini baru saja bergerak, tapi pikiranku seperti sudah sampai lebih dulu di depan pintu rumah.
Di balik jendela yang memantulkan wajah lelahku, aku melihat kota-kota yang tertidur, lampu-lampu jalan yang menjauh, dan sepi yang perlahan menusuk hingga ke tulang.
Katanya, jarak adalah cara Tuhan menguji seberapa kuat kita menyimpan rindu. Namun malam ini, jarak terasa seperti sembilu; tajam, bisu, dan tak kenal ampun. Aku menatap bangku kosong di sampingku, menyadari bahwa setiap detak mesin adalah langkah yang membawaku lepas dari pengasingan diri.
Aku tidak sedang sekadar berpindah tempat; aku sedang menjemput kembali separuh nyawaku yang tertinggal di sana.
Untuk kamu yang menanti dengan lampu teras yang tetap menyala:
Sabar sedikit lagi. Jangan biarkan kantuk mengalahkanmu sebelum pelukku tiba. Biarkan malam ini menjadi saksi, bahwa selelah apa pun dunia menempaku, arah kepulanganku tetaplah satu: Kamu.
Sebab sedingin apa pun angin malam di gerbong ini, bayangan senyummu adalah api yang menjagaku tetap hangat hingga fajar menyambut kita di beranda.
"Jarak hanyalah jeda, agar saat kita bertemu nanti, pelukan itu tak lagi butuh kata-kata."
~ 28ᵗʰ Ramadhan 1447 H

