ADA sebuah luka yang tak berdarah, namun sanggup merubuhkan fondasi jiwa seorang lelaki: yakni ketika ia merasa asing di dalam rumahnya sendiri. Dunia di luar sana mungkin kejam, penuh kompetisi, dan tanpa ampun. Namun, semua itu biasanya sanggup dihadapi selama ada "rumah" yang menjadi tempatnya untuk pulang dan merasa diterima.

​Tragedi yang digambarkan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin ini adalah tentang hilangnya fungsi rumah sebagai maskan (ketenangan). Ketika standar kebahagiaan keluarga hanya diukur dari angka-angka dan materi, maka sosok kepala keluarga tak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan sebagai mesin pemuas keinginan.

​Cibiran atas sebuah "kekurangan" materi adalah racun yang paling cepat mematikan nyali. Demi menghindari rasa malu di hadapan orang tercinta, atau demi menghentikan keluhan di meja makan, tak jarang seorang lelaki terpaksa menggadaikan prinsipnya. Ia memikul beban yang melampaui batas bahunya—bukan karena ia kuat, tapi karena ia merasa tak punya pilihan lain selain menjadi "ada" secara materi, meski harus "tiada" secara nurani.

​Kita perlu belajar kembali bahwa cinta tidak seharusnya menuntut seseorang untuk melampaui batas fitrahnya. Kehormatan seorang suami atau ayah bukan terletak pada seberapa mewah dunia yang ia bawa pulang, melainkan pada seberapa berkah nafkah yang ia perjuangkan.

Kita perlu belajar kembali bahwa cinta tidak seharusnya menuntut seseorang untuk melampaui batas fitrahnya.
Kehormatan seorang suami atau ayah bukan terletak pada seberapa mewah dunia yang ia bawa pulang, melainkan pada seberapa berkah nafkah yang ia perjuangkan.

​Jangan sampai rumah kita menjadi penjara bagi ia yang sedang berjuang di jalan Tuhan. Jadilah tempat berteduh, bukan sumber badai baru. Sebab, saat bahu itu patah karena tuntutan kita sendiri, maka runtuhlah seluruh atap yang selama ini melindungi kita semua.

#Dorian #ClémentLegrand #amourfantome #absence #tendresse #toujoursla #art #beaute #jeunesse #hedonisme #muscle #toutcatoutca #illustration #debutdesemaine #endouceur #graphicdesign #draw (à Le Havre, France) https://www.instagram.com/p/BuA0xGPA85C/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=a0mcj7t1ful8

IBU PENCURI BAWANG demi untuk bertahan hidup, Ibu maling duit rakyat, maling demi untuk melampiaskan HEDON

Begitulah negeri ini entah kapan akan benar-benar berpihak pada masyarakat.

"Semua sama di hadapan hukum" (equality before the law) adalah prinsip fundamental dalam negara hukum, yang menyatakan bahwa setiap orang, tanpa memandang status sosial, jabatan, atau kekayaan, harus diperlakukan sama di bawah hukum. Ini berarti hukum berlaku untuk semua orang dan tidak ada pengecualian, termasuk aparat penegak hukum dan pemerintah."

Bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk diperlakukan adil oleh hukum, tanpa adanya diskriminasi.

Kebaikan itu akan menular, kejahatan pun sama akan menular.

Maka carilah circle pertemanan yang baik, yang membawa dampak positif, yang bermanfaat yang membawamu kepada kemaslahatan, yang senantiasa memberi semangat dan selalu menasehati, MENGINGATKAN kita di kala saatnya salah dan khilaf.

Semoga kita mendapat teman dan sahabat yang baik dunia dan akhirat.

Di Baghdad, para ulama takut bicara, tapi orang gila berani hina khalifah. Ternyata yang gila justru yang paling sadar.

Seorang lelaki bertelanjang kaki masuk ke istana Khalifah. Ia menuding pemimpin Muslim terbesar saat itu, “Kau menumpuk harta, tapi kuburanmu cuma butuh dua meter. Siapa yang sebenarnya gila?”

Ia bukan pembunuh. Ia hanya… orang gila.

Tapi kata-katanya membuat seluruh istana terdiam.

Setiap Jumat, di pasar Baghdad, orang-orang berkerumun bukan untuk khotbah, tapi menunggu “Bahlul” si gila melempar batu ke kubah masjid sambil berteriak: “Kalian takut pada Tuhan yang tak pernah kalian lihat, tapi tidak takut pada pendeta yang korup di depan mata!”

Batunya selalu mengenai, bukan dinding, tapi hati yang sudah mengeras.

Suatu malam, sang khatib terkenal ditampar di tengah khutbah oleh perempuan gila bernama Rabi’ah.

Ia berkata: “Kau ceramah sabar, tapi istrimu menangis setiap malam. Ajari dirimu dulu, baru mengajar jalanan!”

Khatib itu kemudian menangis di mimbar. Ia mundur selama 40 hari dan menulis, “Baru kau tahu apa itu taubat saat yang gila yang mengajarkan.”

Di penjara, seorang gila ditanya hakim: “Mengapa kau bakar kitab fikih?”

Jawabnya, “Karena kalian jadikan buku itu tembok, bukan jendela. Aku bakar supaya cahaya masuk, bukan malah gelap.”

“Karena kalian jadikan buku itu tembok, bukan jendela. Aku bakar supaya cahaya masuk, bukan malah gelap.”

Hakimnya diam, lalu membebaskannya, dan memulai mengaji ulang semua buku di perpustakaannya.

Ketika ditanya, “Apa bedanya orang waras dan gila?”

Bahlul menjawab, “Orang waras menabung emas di brankas, lalu mati was-was. Orang gila menabur kata, lalu hidup tenang di kuburan.

Pilih waras di dunia atau gila di akhirat?

Sejak itu, para pedagang emas Baghdad mulai bersedekah diam-diam. Takut ternyata mereka yang gila.

Kebijaksanaan tak selalu bersorban, kadang bertongkat dan berludah di jalan.

Di buku abad 10 ini, 500 kisah ‘orang gila’ menghajar kesombongan kita. Tertawa miris, lalu tersentak, “Jangan-jangan yang gila sekarang… kita?”

•••