Ke Rumah-Nya

Ada fase dalam hidup ketika lelah tidak selalu datang dari banyaknya aktivitas, tapi dari hal-hal yang entah sejak kapan terbiasa dipendam sendirian.

Aneh sebenarnya. Kita dikelilingi orang. Punya keluarga. Punya rumah. Tapi tetap saja ada hari-hari ketika isi kepala terasa penuh, dan pertanyaan yang muncul: talk to who?

Bukan karena tidak ada yang peduli. Namun justru karena terlalu tahu siapa yang paling peduli.

Orang tua, misalnya.

Bagiku, mereka adalah definisi rumah yang paling nyata. Tempat pulang yang rasanya selalu ada. Tempat di mana kita diterima, bahkan saat dunia terasa… complicated.

Tapi semakin dewasa, ada rasa sungkan yang ikut tumbuh. Tidak semua resah terasa enak untuk dibawa pulang. Tidak semua lelah terasa ringan untuk diceritakan.

Bukan menjauh. Hanya… enggan merepotkan cinta yang sudah terlalu tulus. Jadi kita memilih diam. Terlihat baik-baik saja— setidaknya dari luar. Menata wajah sebelum masuk rumah.

Sampai di satu titik lelah yang sulit dijelaskan, aku mulai mengerti— bahwa ada satu tempat pulang yang tidak pernah direpotkan oleh cerita seberat apa pun. Tempat di mana riuh di kepala tidak harus disusun rapi dulu. Tempat di mana air mata tidak perlu dibendung agar terlihat kuat.

Kepada Allah.

Dan di antara doa-doa yang kupanjatkan lirih, ada satu rindu yang terus kembali: ingin lebih dekat, ingin pulang dengan cara yang berbeda.

Umroh.

Bukan sekadar perjalanan, tapi keinginan untuk bernafas lebih tenang, meletakkan lelah tanpa perlu berpura-pura, dan merasa pulang… dengan cara yang paling utuh. Semoga Allah mampukan untuk menuju ke rumah-Nya.

•••

:: 4 Ramadan 1447H

Pada Akhirnya, Maaf

Manusia jarang kesulitan mengingat luka. Yang sulit adalah melepaskan keterikatannya.

Sering kali, rasa sakit bertahan bukan hanya karena peristiwanya, melainkan karena pikiran terus mengulangnya. Dalam psikologi, kecenderungan ini disebut rumination — memutar kembali kejadian yang telah lewat, seolah dengan begitu kita memperoleh kendali.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Luka yang terus dihidupi perlahan menetap. Tubuh tetap tegang. Hati tetap siaga, seakan ancaman lama belum benar-benar pergi. Dari sinilah sebuah lingkaran terbentuk.

Luka yang tidak selesai kerap berubah menjadi pola. Dalam psikologi ia dikenal sebagai cycle of hurt — rasa sakit yang tidak dilepaskan cenderung mencari pelampiasan. Kadang bukan kepada pelaku awalnya, melainkan kepada orang lain yang bahkan tidak terlibat. Yang tidak salah pun bisa ikut menerima dampaknya.

Secara neurologis, ketika amarah terus dipelihara, sistem stres di otak tetap aktif. Kita bereaksi bukan selalu karena hari ini, melainkan karena kemarin yang belum dilepaskan.

Tidak semua ruang yang kita masuki benar-benar baru. Sebagian telah menyimpan retak jauh sebelum kita hadir di dalamnya. Struktur boleh saja berubah, orang-orang lama boleh saja berpindah, tetapi emosi yang tertinggal tidak selalu ikut pergi.

Sosok yang datang belakangan bisa saja dipandang sebagai bayangan masa lalu. Bukan karena ia melakukan kesalahan, melainkan karena luka sebelumnya belum benar-benar selesai. Dan sering kali, yang datang belakangan hanya menerima gema dari peristiwa yang tidak pernah ia mulai.

Di titik itu, ada dua pilihan: ikut mengeras atau berhenti sejenak. Berhenti untuk menyadari bahwa lingkaran ini tidak akan putus hanya dengan menunggu orang lain berubah.

Sejarah memberi contoh yang tenang.

Saat Nabi Yusuf berdiri di hadapan saudara-saudaranya yang pernah mengkhianatinya, beliau memiliki kuasa untuk membalas. Namun yang terucap justru kalimat yang diabadikan dalam Al-Qur’an:

“Lā tatsrība ‘alaikum al-yawm.” Pada hari itu tidak ada cercaan atas kalian. (Q.S. Yusuf: 92)

Itu bukan sekadar memaafkan. Itu keputusan untuk tidak meneruskan lingkaran. Namun memutus lingkaran tidak berhenti pada memaafkan orang lain.

Ada kesadaran lain yang tidak selalu nyaman: bisa saja, tanpa sadar, kita pun pernah melukai. Nada yang meninggi. Respons yang terlalu cepat. Jarak yang tercipta. Ketika emosi bekerja lebih cepat daripada kejernihan, kita mungkin menyakiti tanpa bermaksud demikian. Di situlah esensi meminta maaf menjadi nyata.

Meminta maaf bukan formalitas. Bukan pula tanda kalah. Ia adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita tidak kebal dari salah. Bahwa dalam upaya bertahan, kita mungkin pernah melukai.

Dan mungkin, meminta maaf adalah cara paling dewasa untuk memutus lingkaran itu. Bukan hanya dengan memaafkan orang lain, tetapi dengan merendahkan ego ketika sadar telah ikut melukai.

Aku pun tidak sempurna. Masih belajar menahan respons sebelum ia mengeras. Masih belajar membaca situasi dengan lebih tenang. Dan ketika sadar keliru, belajar untuk tidak gengsi mengatakan maaf.

Bisa jadi, disanalah letak esensi meminta maaf.

•••

:: 6 Ramadan 1447H

Bersyukur Tanpa Tapi

Kadang kita mikir kalau bersyukur itu cuma buat hal-hal besar—dapet kerjaan impian, menang lomba, atau hidup yang akhirnya on the track. Padahal, menurut Dr. Robert Emmons, seorang pakar positive psychology, gratitude itu lebih dari sekadar celebrating wins. Bersyukur juga soal mengakui dan menghargai setiap proses yang udah kita jalani, bahkan meski hasilnya nggak sesuai ekspektasi. 💔

Salah satu bentuk syukur yang sering kita lupa? Being grateful for trying. Iya, bersyukur karena udah cukup berani buat take a chance, buat step out of comfort zone, dan buat lawan rasa takut itu sendiri. Carol Dweck dalam teorinya tentang growth mindset bilang kalau orang yang terus berkembang itu bukan mereka yang selalu menang, tapi mereka yang selalu mau belajar dari setiap pengalaman.

Pernah nggak sih, kamu coba sesuatu yang high-stakes banget? Udah effort mati-matian, tapi ternyata nggak dapet? Kinda sucks, kan? But here’s the thing—just because you didn’t win, doesn’t mean you didn’t grow. Kemenangan yang nggak kelihatan itu lebih penting dari yang terlihat. Kita jadi tahu gimana rasanya usaha keras, belajar buat hadapi kecewa, dan paham bahwa keberanian buat nyoba aja udah huge progress. 📈

Nah, Ramadan ini mungkin bisa jadi waktu buat latihan seeing gratitude in a different way. Kayak puasa—hasil akhirnya emang nanti pas buka, tapi perjalanannya, dari nahan laper, ngebentuk kesabaran, sampe refleksi diri, itu juga bagian dari sesuatu yang bisa disyukuri. It’s all about perspective, really!

Jadi, bentuk syukur itu nggak cuma soal dapet apa yang kita mau. Syukur juga ada dalam keberanian buat melangkah, dalam pelajaran yang kita dapet di tengah jalan, dan dalam setiap usaha yang udah kita kasih.

Menang atau nggak, kita tetap bertumbuh. And that itself is something to be grateful for. 🌿

:: 10 Ramadan 1446H

On pict: A memory from 5 months ago. Ranked 5th out of 4,877 in CAT SKD, but didn’t make it past the non-CAT SKB. A bit sad, but that’s okay :")

Sahur, Sebenarnya ...

Jam 03.45. Alarm berbunyi, dan seperti biasa, negosiasi kecil pun terjadi: bangun sekarang atau menunda sebentar lagi. Mata masih berat, langkah ke dapur setengah sadar. Adegan yang hampir selalu berulang setiap Ramadan.

Karena memang, sahur kerap dimaknai sesederhana itu: makan sebelum puasa. Mengisi tenaga. Mengganjal lapar agar siang nanti terasa lebih ringan. Tidak keliru, tentu saja. Hanya saja, rasanya ada sisi lain yang sering terlewat jika maknanya berhenti di sana.

Dalam sunnah, sahur bukan sekadar aktivitas sebelum Subuh. Rasulullah SAW menganjurkannya:

“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada keberkahan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Menariknya, yang ditekankan bukan semata energi, melainkan keberkahan—sebuah kata dengan makna yang lebih luas dari sekadar kuat secara fisik. Ulama menjelaskan, keberkahan sahur dapat hadir dalam banyak bentuk: kekuatan menjalani puasa, kemudahan menjaga akhlak saat lapar, kelapangan hati untuk beribadah, hingga nilai ketaatan karena mengikuti sunnah Nabi.

Secara fiqih, sahur memang sunnah, bahkan termasuk sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah). Rasulullah SAW juga menyebutnya sebagai pembeda antara puasa umat Islam dan ahlul kitab. Seolah memberi isyarat bahwa sahur bukan detail kecil, melainkan bagian dari identitas ibadah.

Menengok sirah, sahur Rasulullah SAW justru identik dengan kesederhanaan. Tidak selalu hidangan lengkap. Kadang hanya kurma dan air. Dari sini terasa bahwa esensi sahur tidak terletak pada banyaknya makanan, tetapi pada maknanya: kesiapan, keberkahan, dan ketaatan.

Ada satu dimensi yang juga sering luput. Sahur hadir di akhir malam—waktu yang Al-Qur’an gambarkan sebagai momen istighfar:

“Dan mereka yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)

Di saat dunia masih tenang, langit justru terasa “hidup”. Doa dipanjatkan, ampunan dibukakan, dan hati lebih mudah hening. Kita bangun untuk makan, sementara waktu itu sendiri menyimpan ruang yang begitu lapang untuk berzikir, berdoa, dan merapikan niat.

Barangkali, itu yang seringkali kita lupa.

●●●

:: 5 Ramadan 1447H

Ramadan, dan Pertanyaan-Pertanyaan Itu

Sebagai anak kecil, Ramadan itu seru.

Banyak libur sekolah. Kalaupun masuk, pulangnya cepat. Habis Subuh ada asmara Subuh. Malamnya setelah tarawih, main kembang api sama kawan-kawan.

Yang paling kusuka itu sahur dan buka puasa. Pagi dan malam selalu kumpul di meja makan. Kalau hari biasa, jarang makan bareng. Jamnya beda-beda. Kadang aku sudah selesai, yang lain belum duduk. Kadang Ayah belum pulang. Kadang ada yang makan sendiri duluan. Tapi di Ramadan, semua duduk bersama. Rasanya hangat.

Aku sebenarnya belum benar-benar paham kenapa Allah menyuruh puasa. Yang kutahu cuma satu: harus puasa supaya dapat pahala. Kalau tidak puasa, nanti Allah marah.

Setelah tarawih, kami antri minta tanda tangan imam. Itu tugas dari sekolah. Habis itu tadarus rame-rame di masjid. Kadang masih sambil ketawa pelan-pelan.

Tapi di tengah semua yang seru itu, kadang aku heran.

Kenapa ada orang dewasa yang tidak puasa? Aku tahu bekerja itu melelahkan. Tapi dulu aku berpikir, bukankah ini perintah Allah?

Katanya juga, kalau Ramadan setan-setan dikurung. Tapi kenapa masih banyak orang dewasa yang marah saat puasa? Berarti bukan salah setan dong, ya?

Dan kenapa ada yang ibadahnya makin rajin, tapi tetap saja suka gosip atau ngomongin orang?

Waktu itu aku tidak tahu banyak. Aku cuma anak kecil yang melihat Ramadan sebagai sesuatu yang seru, tapi juga penuh tanda tanya.

Dulu aku banyak bertanya tentang orang dewasa.

Kenapa tidak puasa.

Kenapa masih marah.

Kenapa masih suka gosip.

Sekarang, setelah lebih dewasa, pertanyaannya tidak benar-benar hilang. Hanya saja arahnya berubah. Bukan lagi tentang orang lain. Tapi tentang diri sendiri.

Dan mungkin, itu sebenarnya yang sedang dilatih Ramadan.

•••

:: 7 Ramadan 1447H

Bu, Puasa Itu Buat Apa Sih?

Tahun lalu, pas bulan Ramadan, meja guru selalu jadi tempat nongkrong anak-anak berseragam putih merah tiap jam istirahat. Mereka ngerubung, cerita apa aja yang lewat di kepala. Mulai dari kucing peliharaan yang abis lahiran, sampe soal siapa yang tadi kesiangan sahur.

Di tengah obrolan, tiba-tiba ada yang nyeletuk:

“Bu, kenapa sih kita harus puasa?”

Pertanyaan sederhana yang entah kenapa selalu bikin senyum sendiri. Soalnya, tiap Ramadan, pertanyaan itu selalu muncul, kayak tradisi kecil yang ga tertulis. Jawabannya juga udah template.

“Soalnya Allah sayang sama kita. Allah mau kita belajar jadi anak hebat yang sabar dan kuat.”

Tapi ya, namanya anak-anak, curious levelnya tuh out of this world. Langsung ada yang protes:

“Tapi lapar itu ga enak, Bu.”

Aku auto ketawa kecil, sambil nyari analogi yang relate sama dunia mereka:

“Iya, makanya Allah cuma minta kita puasa sebulan. Itu pun tiap maghrib kita dapet hadiah buka puasa. Kayak nyusun rumah dari lego — satu-satu disusun, kadang jatuh, kadang miring, tapi pas akhirnya jadi rumah yang lengkap, rasanya seneng banget, kan?”

Mereka manggut-manggut, kayanya paham. Tapi ya gitu, obrolan ga pernah bisa lama di satu topik. Baru aja selesai bahas puasa, udah pindah ke perdebatan penting: es jelly lebih enak daripada es buah, katanya. 😅

Ramadan di sekolah, emang selalu semeriah itu. Always full of unexpected convo. Tapi justru disitulah serunya! Dan kayaknya, jawaban kenapa kita harus puasa tuh ada di situ — supaya kita belajar sabar, syukur, dan nikmatin kebersamaan bareng orang-orang terdekat. 🫶🏻

Ternyata, puasa bukan cuma soal nahan lapar, tapi juga soal belajar jadi anak hebat yang hati dan pikirannya makin kuat. Semoga itu kita, ya! 💪🏻✨️

:: 4 Ramadan 1446H / 4 Maret 2025

Bonus: foto bareng murid² lucuku sepekan lalu, selepas Tarhib Ramadan 🥰

Ketika Iman Butuh Ruang Aman

Pernah nggak, ada di fase ibadah udah jalan—shalat lima waktu aman, doa rajin, tilawah juga—tapi hati tetap berat? Ada ruang kosong yang nggak tau kenapa, ada tangis yang jatuh tiba-tiba, kayak capek yang akhirnya numpuk jadi air mata.

Kalau pernah, kamu nggak sendiri. Dan ternyata, ini sinyal bahwa iman kita lagi butuh di-upgrade. Karena upgrade iman tuh bukan cuma soal nambah kuantitas ibadah, tapi juga menaikkan kualitas keyakinan.

Di psikologi, ada konsep bernama self-awareness dan meaning. Self-awareness ngajarin kita buat ngerti kenapa kita melakukan sesuatu, sedangkan meaning ngajak kita nemuin makna yang lebih dalam dari rutinitas harian. Termasuk ibadah.

Coba refleksi sebentar: selama ini kita shalat karena apa? Karena cinta? Takut? Formalitas biar hati tenang? Kalau ibadah cuma checklist tanpa dialog batin yang jujur sama Allah, hati kita wajar merasa kosong. Karena upgrade iman nggak cuma soal bergerak, tapi juga soal paham kenapa kita bergerak.

Rasulullah SAW sendiri pernah ngalamin fase perenungan panjang sebelum wahyu turun, dikenal sebagai fatrah al-wahy. Di Gua Hira, beliau nggak cuma sekadar beribadah, tapi juga merenungi makna dan arah hidupnya. Bahkan setelah wahyu pertama turun, Rasulullah masih gemetar, pulang ke Khadijah sambil berkata, "Selimuti aku." Itu menunjukkan bahwa proses spiritual bukan cuma tentang tahu apa yang harus dilakukan, tapi juga berani jujur soal rasa takut dan kebingungan yang manusiawi.

Itu sebabnya, upgrade iman bukan berarti makin banyak ibadah secara fisik aja. Tapi juga upgrade cara kita memandang Allah. Apakah Allah selama ini kita anggap Zat yang mengancam, atau Zat yang menyembuhkan? Ini penting banget, karena cara pandang itu memengaruhi kualitas ibadah kita.

Lalu, gimana kalau udah refleksi tapi hati tetap berat? Nah, di sini kita ketemu realita lain: iman yang sehat butuh jiwa yang sehat juga. Luka batin yang nggak sembuh, trauma yang dipendam, kecewa yang nggak pernah diberesin, itu semua bisa numpuk jadi kabut tebal yang menutupi cahaya iman kita.

Psikologi klinis menyebut ini sebagai unresolved trauma, dan penyembuhannya nggak cukup dengan sekadar "sabar dan shalat." Ada kalanya, kita butuh ruang aman buat cerita, entah ke sahabat, guru spiritual, atau psikolog profesional. Ini bukan tanda iman lemah, justru ini bagian dari upgrade iman juga: berani mengakui luka, berani mencari bantuan. Karena kita percaya Allah hadir lewat banyak cara, termasuk lewat ilmu dan tangan-tangan ahli.

Jadi, upgrade iman itu bukan soal terlihat lebih religius di depan orang, tapi soal berani jujur ke diri sendiri: aku sebenarnya lagi baik-baik aja nggak sama Allah? Aku ibadah karena cinta atau karena takut ditinggal dunia?

So, if today your faith feels heavy, know that it’s not the end. It’s a gentle invitation from Allah to level up — to upgrade your faith to a deeper, more meaningful place. 🖤

:: 7 Ramadan 1446H

Pentingkah Memaafkan?

Banyak orang menganggap memaafkan sebagai bentuk kelembutan hati, tapi kalau kita lihat lebih dalam, sebenarnya forgiving itu lebih ke soal emotional resilience—kemampuan buat nggak membiarkan luka lama mengambil kendali atas hidup kita.

Jadi, seberapa penting sih memaafkan? Kok rasanya berad, ya? 🥲

Kenapa Memaafkan Itu Susah?

Menurut penelitian The Science of Forgiveness oleh Dr. Fred Luskin, ada beberapa alasan kenapa forgiving feels so hard:

1. Survival Instinct

Otak kita dirancang buat ngelindungi diri dari ancaman. Ketika ada yang nyakitin kita, sistem pertahanan otomatis aktif—entah dengan marah, jaga jarak, atau pengen balas dendam.

2. Identity & Ego Protection

Kadang, rasa sakit bikin kita ngecap seseorang sebagai "jahat" dan diri kita sebagai "korban." Memaafkan bisa terasa kayak "aku kalah," padahal sebenernya nggak gitu.

3. Unfinished Emotional Process

Proses memaafkan itu mirip the five stages of grief dari Kübler-Ross: denial, anger, bargaining, depression, acceptance. Kita nggak bisa langsung lompat ke fase "ikhlas" kalau belum ngelewatin yang lain.

Memaafkan Bukan Berarti Lupa

Dalam Islam, memaafkan bukan cuma soal kindness, tapi juga mental strength. Allah bilang di QS. Asy-Syura: 40:

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah..."

Artinya, kalau masih punya rasa pengen balas, itu valid. Tapi kalau memilih buat maafin, ada extra reward dari Allah.

Tapi Islam juga nggak ngajarin kita buat people-pleasing. Rasulullah SAW kadang memaafkan, kadang bersikap tegas. Contohnya, saat dilempari batu di Thaif, beliau memilih buat memaafkan. Tapi di Perang Badar, beliau tetap menegakkan keadilan. Forgiveness is noble, but justice is essential.

Manfaat Memaafkan: Bukan Buat Orang Lain, tapi Buat Diri Sendiri

Menurut Everett L. Worthington tentang REACH Model of Forgiveness, orang yang belajar memaafkan dengan cara:

  • Recall (mengenali emosi yang muncul)
  • Empathize (melihat dari sudut pandang lain)
  • Altruistic gift (mengikhlaskan tanpa merasa kalah)

... cenderung punya emotional well-being yang lebih stabil.

Dr. Karen Swartz dari Johns Hopkins Medicine juga nemuin kalau memaafkan bisa nurunin stres, tekanan darah, dan resiko depresi. Jadi bukan soal "dia pantas dimaafin atau nggak," tapi lebih ke "aku pantas buat hidup lebih tenang tanpa bawa beban ini."

Tapi Gak Semua Harus Dimaafin, Right?

Nggak semua situasi bisa diselesaikan dengan memaafkan begitu saja. Dalam beberapa kasus, decisional forgiveness—alias memilih untuk melepaskan tanpa harus berdamai dengan pelaku—bisa jadi opsi yang lebih sehat.

Lihat aja kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Waktu putrinya, Aisyah, difitnah dalam Haditsul Ifk, salah satu yang nyebarin fitnah itu ternyata Mistah bin Utsatsah—kerabatnya sendiri yang selama ini dia bantu secara finansial. Kebayang kan, sakitnya? Karena kecewa, Abu Bakar sempat bersumpah nggak akan bantu Mistah lagi.

Tapi terus turun QS. An-Nur: 22:

"... Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Setelah ayat ini turun, Abu Bakar akhirnya mutusin buat maafin dan tetap bantu Mistah. Tapi apakah hubungan mereka balik bestie vibes kayak dulu? Nope.

See? Ini nunjukin bahwa kita nggak harus force ourselves buat memaafkan sepenuhnya. Yang lebih penting adalah belajar menetapkan batasan—set boundaries—supaya luka yang sama nggak terulang.

So, Memaafkan Itu Penting Gak?

Short answer: yes, but take ur time.

Memaafkan bukan berarti harus pura-pura lupa atau langsung ikhlas. It's a process, dan tiap orang punya ritmenya sendiri.

Yang jelas, jangan sampai dendam bikin kita capek sendiri. Toh, yang paling dirugikan dari kebencian bukan orang yang bikin luka, tapi kita yang nyimpen perasaannya terlalu lama.

Dan mungkin, pengalaman ini bisa jadi pengingat juga. Kalau pernah ngerasain sakitnya satu perlakuan, setidaknya kita nggak ngelakuin hal yang sama ke orang lain.

You know how it feels, so don’t be the reason someone else feels that way too. 🙂

—sebuah kontemplasi, dari Yulan kepada Yulan

:: 24 Maret 2025