Kembali~

Beberapa waktu terakhir, aku lebih sering menulis rencana daripada puisi, menghitung hari menuju hari bahagia dan menata amanah yang datang silih berganti. Hingga tanpa sadar, tinta di meja menjadi sunyi, dan kata-kata memilih menunggu dengan sabar.

Hari ini aku kembali menyapanya, membawa hati yang sedikit lebih dewasa dari sebelumnya. Semoga Allah menjaga tulisan-tulisan ini, sebagaimana Dia menjaga langkahku menuju babak yang baru.

Pohon di Dalam Dada

Di hatimu, tumbuh sepasang cabang pohon, dan kau sengaja memotong salah satunya. “Jika keduanya dibiarkan tumbuh, keduanya akan mati,” katamu pelan, “tak cukup ruang untuk dua arah yang saling ingin hidup.”

Sementara di hatiku, sebatang pohon menolak mati, ia terus tumbuh, mencari cahaya di sela-sela luka, menemukan ruang dari setiap kehilangan, dan tak pernah berhenti memperbaiki dirinya sendiri.

Sebagian Luka Tak Pernah Sembuh

Hari yang datang menemani hatimu yang hangat dan senyap, luka-luka di dadamu sebagian sembuh, sebagian terawat dengan baik, sebagian lagi luka lama yang tak pernah kau sentuh dan takkan pernah sembuh.

Mimpi-mimpi lamamu masih berputar seperti bayangan sore di dinding, kadang kau cari cara untuk menyesalinya, di waktu tak ada yang bisa kau kejar atau kerjakan.

dan saat tak ada lagi yang bisa dikejar, kau hanya menatap bayanganmu sendiri. tak marah, tak juga bangga sekadar tahu, hidup pun bisa hampa dengan indahnya.

Semoga langkah ini menjadi halaman penutup dari manuskrip pencarian, dan menjadi prolog perjalanan ibadah panjang di mana dua jiwa menyalin ulang dirinya dalam arsip sunyi yang Dia jaga rapat.

Semoga harap menemukan aksaranya, doa menetap dalam margin ikhlas, agar hati tak tercoreng tinta dunia, tetap rapi pada paragraf keyakinan, sebab setiap guratan usaha terdaftar pada-Nya.