Avatar

Zaara Hayat Khan

@zaarahk / zaarahk.tumblr.com

Menjelajahi kehidupan, menyelami laut pengetahuan, memaknai perjalanan

Hal yang paling kutakutkan sekarang menjaga kepercayaan orang lain, takut kecewain mereka.

Ujung Tombak IGD

Menjadi dokter umum magang alias internship dan menjadi ujung tombak IGD rasanya naik turun. Selalu berpikir "Kira-kira diagnosis pasienku sudah benar nggak ya? Apakah benar sudah tepat sasaran mengarah ke satu diagnosis atau nggak ya?" Kalau akhirnya benar yaa alhamdulillah, ternyata arahnya sudah sesuai. Tapi saat melenceng dikit, mulai overthinking dan merenung, "oohh ternyata ituu diagnosisnya". Kadang menjadi ujung tombak penjaga IGD yang tidak pernah tutup ada hikmahnya. Jadwalnya tetap, gitu-gitu aja, tapi keadaan di saat jaga itulah yang mewarnainya.

Pokoknya terima kasih terbesar Aku sampaikan pada semua pasien-pasien yang kutemui di IGD RS tempatku magang. Terima kasih sebesar-besarnya karena kalianlah guru terbaik. Bagi kami seorang dokter, pasien adalah guru terbaik kami. Semoga kalau sudah sembuh nggak usah rajin-rajin ke IGD lah, jaga kesehatan aja biar sehat selalu.

Tetap jaga kesehatan yaa semuanya🥰

Menjaga Kewarasan

Kadang bingung juga sama manusia yang tidak masuk akal. Jadwal jaga mau dirombak malah ngide sekalian nggak usah ada yang ngisi di satu jadwal. Kan plenger tuh.

Satu saja yang harus dijaga, kewarasan. Yang penting jangan ikut plenger juga deh

Kita sering mikir kalau emosi itu harus dikontrol mati-matian. padahal yg lebih sering terjadi itu ditekan, bukan dipahami.

Kelihatannya “tenang”, tapi didalam numpuk.

Ngga meledak sekarang sih, tapi bocor di hal-hal kecil kan?

Emosi yg ngga dikasih ruang itu ternyata ngga hilang, mereka cuma ganti cara untuk muncul.

Kadang juga bukan kita yg terlalu sensitif, kita cuma terlalu lama jadi pura-pura kuat.

Dan sebenrnya ngaku “lagi ngga baik-baik aja” itu jauh lebih sehat daripada terus maksa buat terlihat baik-baik aja.

Written by Aftansa

Burnout

Akhirnya, hari yang betul-betul lelah mulai kurasakan. Perasaan bukan sekali ini saja Aku jauh dari orang tua dan merantau, tapi kenapa rasa lelah ini semakin menjadi-jadi? Pas pulang dari jaga RS, makan dengan teman-teman kos, ketawa-ketawa. Tapi setelah itu, masuk kamar, nangis kejer. Berasa merantau hampir setahun padahal masih sebulan. Entahlah, tiba-tiba mau nangis aja. Hormon juga lagi kalang kabut karena PMS. Mungkin karena partner jaga tidak sefrekuensi dan kejadian menjengkelkan pas jaga buat semuanya berkumpul jadi satu.

Besoknya teman-teman kos lihat mukaku bengkak. Aku bilang aja karena baru bangun tidur jadinya bengkak. Siangnya ditanyain lagi kenapa suaraku bideng, Aku bilang karena tiap halangan Aku sakit. Ada benernya sih, tapi bilang aja gitu. Kasian kalau mereka tau Aku udah nangis kejer, nanti mereka sedih juga. ENTJ kuat kok, Akan kujalani walau dengan menangis. HAHAHA

Avatar
Reblogged

Refleksi : Pola yang Berulang

Dulu pernah ada beberapa masa traumatik. Diserang, dituduh, diadudomba, kena gaslighting, dan orang tersebut playing victim. Sebagian memang ada yang tidak suka karena karakterku yang cenderung vokal dan tegas. Ada juga orang terdekat yang dilandasi rasa iri dengki, hidupku yang biasa-biasa ini dianggap sebagai saingannya. Aneh, dan ini yang paling mengejutkan.

Pertemanan sejak dulu kala, selalu supportif, real friends, yaa ga nyangka aja pernah merasakan pengalaman ini. Ketika sadar bahwa relasi ini toksik, justru tanpa sadar pola ini berulang. Berulang kali bertemu dengan sosok manipulator atau narsistik. Sampai aku dibuat ragu dengan value diri.

Aku sudah berdamai dengan yang dulu-dulu. Langkah awal memang cut-off. Cara berdamai ialah mencari tahu, mempelajari, dan sudah sampai di titik yang bisa memahami mereka dari sisi psikologisnya; mengapa mereka punya karakter dan bersikap demikian. Yaa berlalu aja gitu~

Aku mencari tahu bagaimana ciri manipulator/narsistik, sekaligus menghadapinya. Setelah proses belajar, aku bertemu orang yang benar-benar tidak menyerah untuk menjatuhkanku. Aku sudah mempelajari apa itu sikap grey rock, memang itu cara menghadapi tipikal mereka : menganggapnya tidak ada. Sampai akhirnya ia menyerah sendiri.

Namun, kenapa pola ini berulang lagi? Sampai bingung, apa ada yang salah dengan diriku? Padahal aku tak pernah mengusik kehidupannya. Orang lain membicarakan keburukannya, aku tidak berminat memberitahunya. Membicarakan dia di depan orang lain pun juga tidak.

Kesadaran pola yang beberapa waktu terakhir ini, bukan lagi di titik yang sakit hati atau hard feelings gimana-gimana. Namun, aku jadi dibuat berpikir dan bertanya-tanya, "Kenapa pola ini seringkali berulang? Padahal aku sudah mempelajari bagaimana menghadapi seorang manipulator/narsistik".

Akhirnya aku berinisiatif untuk bertanya pada chatgpt wkwkwk. Jawabannya adalah ...

Pola bertemu orang narsistik atau manipulatif yang berulang bukan berarti ada yang salah dengan diri Anda. Ini sering terjadi karena otak cenderung masuk ke pola relasi yang terasa familiar dari pengalaman masa lalu, meski pola itu tidak sehat. Hal ini adalah mekanisme bertahan hidup, bukan kelemahan.
Orang manipulatif juga tidak memilih target secara acak. Mereka tertarik pada orang yang empatik, reflektif, toleran, dan menghindari konflik—kualitas yang sebenarnya sehat, tetapi bisa dimanfaatkan oleh orang yang salah.
Seiring meningkatnya kesadaran diri, Anda menjadi lebih mampu mengenali pola ini. Jadi bukan karena orang toksik makin banyak, melainkan karena kepekaan Anda meningkat.
Tidak ada yang “rusak” pada diri Anda, namun mungkin ada pola perlindungan diri lama yang perlu diperbarui, terutama dalam hal menjaga batas dan mempercayai rasa tidak nyaman.
Yang perlu diubah bukan kepribadian Anda, melainkan kemampuan menetapkan batas sejak awal. Orang sehat akan menghormati batas, sementara orang manipulatif akan bereaksi negatif—di situlah seleksi relasi terjadi lebih dini.
Kesimpulannya :
- Pola berulang ≠ Anda bermasalah
- Anda tidak menarik orang toksik; mereka tertarik pada kualitas Anda
- Solusinya bukan menjadi dingin, tapi lebih tegas sejak awal
- Kesadaran ini adalah tanda proses penyembuhan dan pertumbuhan

Oh dari sini tercerahkan.. Satu hal yang aku bisa kontrol dari pengalaman yang lalu-lalu itu, saat difitnah; dicari-cari celah kesalahanku; mau menjatuhkanku, aku lebih memilih diam, tidak menjelaskan, tidak membela diri, cukup cut-off tanpa sepatah kata. Lambat laun, orang-orang di sekitarnya yang akan menjadi target selanjutnya itulah yang akan sadar, siapa yang problematik :)

Orang problematik sepertinya tidak suka ketenangan dan kestabilan orang lain. Jadi kalau ada orang suka nyenggol-nyenggol, bersikaplah netral, jangan mau diprovokasi, anggap dia tidak ada dan sikap liciknya tidak mempengaruhi hidupmu.

Cukup fokus memperbaiki hubungan dengan Allah, sebab, apapun bentuk kejahatan/kedzaliman orang lain terhadap diri kita, merupakan refleksi—dosa kita sebagai manusia; sebuah teguran supaya kita tetap mendekat pada Sang Pencipta.

Jakarta, 11 Januari 2026 | Pena Imaji

Akibat tamparan keras postingan lama akun koasracun di X,

Resep Hidup Sehat :
1. Minum obat dokter
2. Turuti saran dokter
3. Jangan ikuti gaya hidup dokter

Efeknya Aku mulai modifikasi gaya hidup diri sendiri dulu, mengingat keluargaku punya riwayat-riwayat penyakit kronis, maka pencegahan sejak dini mulai kulakukan sedikit-sedikit. Minimal olahraga 3x dengan total durasi 150 menit tiap minggu. Walaupun baru memulai kebiasaan ini, nggak kaya orang-orang lah yaa yang udah mulai lari main pace-pace an, yang penting jalan aja dulu.

Lumayan nih sempat jalan-jalan ke IKN hirup udara segarnya

Satu hal yang patut untuk disyukuri hari ini adalah melihat pemandangan teduh penuh pepohonan hijau, langit yang cerah, awan putih yang terus bergerak. Rasanya cuma mau duduk tenang, tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan pelan-pelan. Di tengah hiruk-pikuk duniawi, sepertinya pemandangan satu ini bisa menjadi penenang sementara.

"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit sehingga bumi itu menjadi hijau? Sungguh, Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui" [QS. Al-Hajj [22] : 63]

Hasil Tidak Akan Pernah Mengkhianati Usaha

Setelah kegagalan demi kegagalan dahulu sudah kurasakan, hanya satu jalan keluarnya: Bangkit. Jadi teringat kembali semua list kegagalanku 6 tahun yang lalu. Gagal ikut SNMPTN padahal nilai ku aman, koneksi ke universitasnya bagus, alumni SMA ku yang lanjut di prodi dan univ yang kutuju IPKnya bagus. Tapi dari itu semua, tetap saja gagal. Jalur undangan masuk universitas tidak bisa kutembus. Lanjut ke SBMPTN, ujian tulis. Alhamdulillah lulus, tapi universitasnya di provinsi yang berbeda dari tempat tinggal, ditambah bukan prodi kedokteran yang kuidam-idamkan sejak dulu. "Sudah, jangan diambill, cita-citamu bukan itu nak", kata ibu sambil bujuk tidak usah keluar provinsi kalau tidak jadi dokter. Pikiranku mulai bingung, Aku kan nggak lulus kedokteran di PTN, baiknya terima saja hasil SBMPTN, intinya Aku kuliah. Tapi, karena perintah orang tua untuk menolak hasil SBMPTN, akhirnya kuurungkan niat untuk berangkat. Setelah itu, Aku mendaftar prodi kedokteran di salah satu universitas swasta yang dinaungi oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, ternyata hasil ujian tulis dan tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) ku memenuhi syarat untuk masuk kedokteran. Alhamdulillah lulus. Tapi, disinilah hatiku bergejolak. Tidak enak hati rasanya dengan hidup yang pas-pasan ini memaksakan masuk ke kedokteran swasta yang pengeluarannya fantastis. Tapi apa yang dikatakan orang tuaku? "Masuk saja di kedokteran nak, itu cita-citamu sejak kecil. Soal biaya, pasti akan ada saja rezeki yang datang. Yang penting perbaiki niat jadi dokternya nak".

Tak Lapuk Oleh Hujan, Tak Lekang Oleh Panas

Sambil menunggu hasil pengumuman ujian nasional profesi dokter, akhir-akhir ini Aku semakin sering merenung, selain menunggu hasilnya yang mendebarkan, Aku juga mulai menata kembali kehidupan. Memikirkan kembali apa sebenarnya tujuan hidupku, nilai-nilai apa yang akan kupegang hingga kapanpun.

Aku membayangkan di masa depan nanti, Aku sudah menjadi dokter spesialis yang bisa membantu banyak orang. Dan ada satu nilai yang harus terus kujaga sejak hari ini hingga di masa depan, yaitu integritas. Nilai integritas yang terjaga inilah yang tentunya akan memunculkan rasa percaya dari orang lain, terutama diriku yang nantinya akan berkecimpung di dunia kemanusiaan, berurusan dengan kesehatan manusia dan seluk beluk di dalamnya. Belum lagi, bisa jadi di masa depan aku akan menghadapi beberapa dilema etik yang kadang bersinggungan antara etika seorang dokter dan tekanan sosio-legal yang berlaku.

Maka sejak saat ini, Aku akan berusaha untuk menanamkan nilai integritas dalam diri. Terus menjaga moral, ucapan, perbuatan, dan bertanggungjawab terhadap semua hal-hal yang diamanahkan padaku. Dalam penerapannya nanti, walaupun banyak kendala di depan mata, bila masih ada jalan, maka akan kuselesaikan. Dengan bismillah, Insya Allah semua niat-niat baik akan menemukan jalannya.

Makna Cinta Sejati

Rasanya sudah terlalu banyak kisah cinta yang melegenda. Romeo-Juliet, Mirza-Sahiba, Layla-Majnun, Heer-Ranjha, Samson-Delilah, dan masih banyak lagi. Kebanyakan kisah cinta yang melegenda tersebut berakhir tragis. Dari kisah cinta yang ada, Akan aku ceritakan satu cerita mengenai kisah cinta sejati yang menembus langit. Salah satu kisah cinta asli paling fenomenal yang paling kusukai, yaitu kisah cinta antara Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah Binti Khuwailid.

Siti Khadijah berusia 40 tahun saat menikah Nabi Muhammad SAW yang saat itu berusia 25 tahun. Siti Khadijah yang berstatus janda sebelum menikah dengan Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu keturunan suku Quraisy yang terpandang. Siti Khadijah merupakan pebisnis yang sukses dan termasuk kaya di zamannya. Meskipun kaya, beliau tidak menyombongkan diri dan memiliki perilaku yang terhormat. Pondasi kehebatan Khadijah lah menjadi salah satu penopang pasangannya untuk melalui tantangan hidup kedepannya.

Prinsip Hidup

Setelah menimbang-nimbang dan berpikir, sepertinya hidupku akan kujalani dengan mengikuti makna kata-kata ini, "Menjelajahi Kehidupan, Menyelami Laut Pengetahuan, Memaknai Perjalanan". Kata-kata ini kuserap dari beberapa referensi, utamanya dari Al-Quran Surah Al-Alaq ayat 1-5 dan Surah Az-Zumar ayat 21.

Dari Surah Al-Alaq ayat 1, Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk membaca. Konteks membaca di dalam surah ini pun sebenarnya luas, bukan hanya membaca teks semata. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun ummi (tidak pandai baca tulis). Maka dari itu, kumasukkanlah kata "Menjelajahi Kehidupan" dengan arti bepergian untuk menyelidiki kehidupan. Di dalam konteks ayat ini masih berkaitan, mengingat bahwa Rasulullah SAW meskipun tidak pandai baca tulis namun sangat cerdas dalam membaca kondisi di sekitar beliau, seperti memahami kondisi masyarakat contohnya peristiwa peletakan batu hajar aswad yang batunya ditempatkan di atas kain dan semua petinggi Quraisy memegang ujung kain agar semuanya merasa berperan dalam meletakkan batu hajar aswad. Bahkan, dalam konteks strategi perang pun beliau tidak asal-asalan memilih panglima dalam setiap perang umat Islam.

Selanjutnya, "Menyelami Laut Pengetahuan", kuserap dari Surah Al-Alaq ayat 4 dan 5, dalam Tafsir Al-Manar disebutkan, "Tidak ada kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini dalam menyatakan pentingnya membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bagiannya".

Dan di akhir, kumasukkan "Memaknai Perjalanan" karena serapan dari Al-Qur'an Surat Az-Zumar ayat 21, "Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal". Dari ayat tersebut bermakna bahwa semua hal yang terjadi di muka bumi merupakan peringatan bagi kita bahwa hidup ini diatur sedemikian rupa dan sedemikian detailnya oleh Allah SWT agar kita terus mengambil hikmah, memaknai dengan akal, serta meningkatkan keimanan.

Dan terakhir, salah satu inspirasi sastra terbesarku adalah Gurindam 12 yang isi-isinya penuh dengan nasihat hidup :

Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa. Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia. Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia. Jika hendak mengenal orang yang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu. Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal. Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai. Gurindam 12 Pasal 5

Karena Mulut Badan Binasa

Peribahasa ini sepertinya mewakili kejadian-kejadian yang terjadi dengan Indonesia selama sebulan terakhir. Awal mula dari peristiwa kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari 100 sampai 250 persen di beberapa daerah tanpa adanya sosialisasi ke masyarakat. Salah satu daerah yang paling disoroti terkait kenaikan PBB adalah daerah Pati, Jawa Tengah. Setelah rencana kenaikan, pak bupati malah bilang :

"Siapa yang akan melakukan penolakan? Silahkan lakukan, jangan hanya 5 ribu orang, 50 ribu orang aja suruh kerahkan, saya tidak akan gentar" - Sudewo, Bupati Pati (05/08/2025)

Akhirnya apa? karena mulut badan binasa. Itulah peribahasa terbaik yang bisa diberikan. Masyarakat berbondong-bondong datang ke kantor bupati untuk demo dengan jumlah massa dan sumbangan logistik yang berlimpah. Inilah bentuk kemarahan masyarakat. Dan seperti biasa, saat sudah ricuh baru deh minta maaf.

Meninjau Kembali Hidup Ini

Tahu nggak, perjuangan hidup yang kita jalani ternyata sudah jauh lho. Usiamu sudah berapa sekarang? Kepala 2,3,4, atau di atasnya lagi? Berapapun usiamu, cobalah mengingat kembali perjuangan hidup kita sejak dahulu. Dimulai berhasilnya sperma membuahi ovum, bertahan di dalam rahim sekitar 37-40 minggu (kalau prematur lain cerita yaa).

Saat lahir, kita berjuang lagi, berjuang bernapas untuk pertama kali yang ditandai dengan menangis. Kalau kita menangis, berarti kita berhasil. Terus dilanjut dengan proses dari bayi, mulai mendengar sekeliling, membuka mata, duduk, merangkak, belajar makan, berjalan, berbicara; fase balita mulai cerewet lah, lari kesana-kemari, lincahnya nggak karuan; fase prasekolah, sekolah, remaja, hingga dewasa saat ini.

Menjadi dewasa kadang membuat kita lupa melihat kembali ke belakang perjalanan hidup yang sudah kita lewati dan menjadi lemah melihat sekeliling yang begitu progresif mengembangkan diri, mengepakkan sayap-sayap pendidikan, pelatihan, maupun keahlian. Tapi ini hidup teman, kita punya fase dan nilai pencapaian masing-masing. Jangan membandingkan orang lain dan diri sendiri sampai terpuruk dan tidak melakukan apa-apa. Jadikan mereka sebagai motivasi hidup aja, dan ingat kata-kata ini "Kalau dia bisa, aku pasti bisa! Alhamdulillah good for them". Terus berjalan, kalau capek istirahat.

Marah

Marah, salah satu kata sifat yang diartikan sebagai perilaku sangat tidak senang akan sesuatu. Marah menjadi salah satu tanda emosi negatif. Sebagai salah satu emosi yang ada dalam sifat manusia, wajar saja jika seseorang menjadi marah akan sesuatu yang tidak disenanginya. Tapi, kapan sih seharusnya seseorang itu marah?

Marah boleh, asalkan harus tahu satu hal, penyebab dari kemarahan. Kalau marah nya tanpa alasan, itu yang harus dipertanyakan, "ada apa denganmu?"

Ada yang memandang baik kemarahan bila ditempatkan di tempat yang tepat. Dari salah satu pelatihan yang membahas tentang psikologi manusia, Aku dapat ilmu baru kapan kita harus marah dan diperbolehkan, yaitu saat hak kita dirampas. Marah di kondisi tersebut menunjukkan kita sedang memperjuangkan hak-hak yang ditindas atau diinjak oleh orang lain. Selain itu? Sebaiknya dikurangi lah, apalagi marah yang nggak jelas penyebabnya.

Rasulullah saw. bersabda, "Ingatlah sesungguhnya di antara manusia ada yang tidak mudah marah (dan kalau marah) cepat reda (amarahnya). Ada orang yang cepat marah serta cepat reda amarahnya. Ingatlah juga bahwa di antara manusia ada yang cepat marah serta tidak mudah reda amarahnya. Ingatlah, orang yang paling baik adalah orang yang tidak mudah marah serta cepat reda amarahnya. Sementara orang yang paling buruk adalah orang yang cepat marah dan tidak muda reda amarahnya" (HR. at-Tirmidzi)

"If you are depressed you are living in the past. If you are anxious you are living in the future. If you are at peace you are living in the present"

— Lao Tzu

Fitnah

Sejak bertahun-tahun lalu aku sudah berpikir, menjauh dari sosial media adalah solusi yang bagus untuk menghindari fitnah dari manusia-manusia judgemental pembuat onar. Namun ternyata, tanpa sosmed pun fitnah tetap bisa dilakukan seseorang dengan menyebarkan melalui mulut-ke-mulut.

Aku yang awalnya nggak tahu soal fitnah yang tersebar, akhirnya teman baikku yang mendengar sendiri dari sumber fitnah yang menjelek-jelekkanku. Karena mendengar aku sejahat itu, temanku menanyakan langsung tentang informasi palsu itu. Fitnah yang ada seakan-akan menjadi adu domba antara aku dan sahabatku. Kadang pengen sumpal mulut si penyebar fitnah tapi udah nggak bisa. Keterlaluan sih orangnya. Nggak bisa membalas karena pengaruhnya yang besar, cuma beritahu orang sekitar untuk "cukup tahu" soal fitnah itu, cukup tahu track record si penyebar fitnah, cukup tahu berapa banyak orang yang menjadi korban fitnahnya, dan cukup tahu kalau fitnah itu haram.

Kadang harus sadar sih, semua kebaikan yang dilakukan pada orang lain belum tentu dipandang baik. "wa kafā billāhi syahīdā", cukuplah Allah yang menjadi saksi. Pembelajaran ini juga sebagai tamparan pada diri, perbaiki niat dan tetap melakukan hal yang baik. "Innallāha 'alīmum biżātiṣ-ṣudụr", Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.