Related communities
Comunidad de escritores latinoamericanos, amantes de la prosa y poesía
4 online
Una community per le persone a cui piace scrivere (prosa o poesia) per scambiarsi consigli, opinioni, meme, condividere le difficoltà e i progressi ed i propri testi. E visto che a chi piace scrivere solitamente piace anche leggere, anche per scambiarsi consigli di lettura volendo.
21 online
Lugar de expressão usando a língua portuguesa e seus mistérios. Onde cada tema é respeitado, ouvido, admirado, criticado. Lugar de poesia, de prosa, de pala, liberdade. Vamos ser!
11 online
Dies ist eine Community, wo sich über die Freuden (und Leiden) des kreativen Schreibens ausgetauscht werden kann! Fanfiction, Prosa, Gedichte; Alles ist willkommen! Gebt euch Tipps, stellt Fragen und habt Spaß!

Untuk setiap rencana yang patah di tengah jalan, dan untuk setiap impian yang terpaksa harus kamu kubur dalam-dalam.

Gagal bukan berarti kamu selesai. Itu hanya sebuah tanda mati yang memintamu berbelok ke arah jalan yang baru.

Hari esok tidak pernah berwajah sama dengan hari ini. Selama detak dadamu belum berhenti, kesempatan untuk memulai kembali akan selalu mekar dengan warna yang baru.

Kamu tidak kalah, kamu hanya sedang bersiap untuk melompat lebih tinggi.

Menangislah jika itu meringankan, tapi jangan biarkan kecewa mengunci langkahmu selamanya.

Lelah, Tapi Masih Ingin Percaya

Tuhan, aku menyerah. Di mana “yang terbaik” yang selama ini kuucapkan dalam doa, di antara malam-malam yang tak lagi punya nama? Di mana “yang terbaik” yang pernah kumohonkan pada-Mu tiga, lima tahun belakangan, sampai kata-kata itu sendiri terasa seperti batu yang habis digosok dan jadi tumpul?

Kalimat itu menggantung berulang-ulang di kepalaku. Beratus kali aku mengucapkannya dalam hati, beratus kali pula aku menelannya lagi sebelum sempat menjadi suara. Aku menipu pikiranku sendiri dengan kata sabar, dengan kata yakin, padahal di dalamnya ada ruang kosong yang minta diisi.

Aku pernah berada di satu masa ketika doa menjadi satu-satunya bahasa yang kumiliki. Aku menggumamkan “yang terbaik” dengan sisa napas yang bahkan tak sempat kuberi tanda tanya. Aku mengulangnya seperti mantra, berharap Tuhan mengerti yang tidak bisa kujelaskan.

Tapi di titik-titik tertentu, aku mulai ragu. Apakah aku benar-benar mendapat yang terbaik, atau hanya sedang belajar menelan kenyataan? Apakah doa ini masih berjalan, atau hanya memantul kembali ke diriku sendiri, tanpa ada yang menangkapnya?

Aku tidak kapok. Sekali lagi, Tuhan, aku mohonkan “yang terbaik” dari-Mu untukku. Aku mohon, meski tak tahu seperti apa rupa “terbaik” itu, meski aku tak tahu kapan akan datangnya. Aku mohon, dengan sisa yang masih ada pada diriku—napas, luka, dan sedikit keberanian untuk percaya lagi.