si Platonik

@gramabiru / gramabiru.tumblr.com

aku baru tau kalo aku juga punya IG : @faisalsusandi barangkali ingin melihat si Grama Grama ini.

Pinned

Konon, manusia diciptakan dengan kemampuan tertawa.

Mungkin sebab semesta tahu, tanpa jenaka, kita akan terlalu cepat menyadari bahwa hidup hanyalah ruang tunggu menuju kehilangan berikutnya.

Maka kita menciptakan lelucon.

Tentang cinta yang katanya mampu menyembuhkan.

Tentang pulang yang katanya selalu ada.

Tentang "selamanya" yang diperdagangkan seperti barang murah di bibir manusia.

Lucu, bukan?

Kita begitu fasih menciptakan tawa, tetapi begitu gagap ketika diminta menjelaskan mengapa hati selalu pulang kepada sesuatu yang perlahan menghancurkannya.

Aku pernah mengira jenaka adalah bentuk kebebasan.

Kini kusadari, ia hanyalah topeng paling elegan yang dikenakan manusia agar tidak terlihat sedang sekarat di dalam dirinya sendiri.

Lalu datanglah haru.

Bukan sebagai tamu.

Melainkan sebagai pemilik rumah yang selama ini membiarkan kita percaya bahwa kita adalah penghuni utama.

Haru biru memaparkan dirinya tanpa meminta izin.

Di sela kopi yang mulai dingin.

Pada lagu yang tak lagi mampu dinyanyikan utuh.

Di bangku-bangku kota yang menyimpan lebih banyak perpisahan daripada pertemuan.

Dan kita, dengan sombongnya, masih menyebut semua itu sebagai proses menjadi dewasa.

Padahal mungkin tidak.

Mungkin kita hanya semakin mahir menyusun reruntuhan agar tampak seperti kehidupan yang baik-baik saja.

Barangkali itulah ironi paling purba.

Manusia mencita-citakan jenaka, tetapi diwarisi haru.

Membangun harapan setinggi langit, lalu menghabiskan sisa umur memunguti serpihannya sendiri.

Jika suatu hari dunia bertanya mengapa wajahku tampak tenang, jangan katakan aku telah sembuh.

Katakan saja aku telah terlalu lama berdamai dengan bencana yang memilih menetap.

Sebab pada akhirnya, tidak semua yang hancur ingin diperbaiki.

Sebagian memilih menjadi monumen.

Agar setiap orang yang melintas mengerti, bahwa bahkan kebahagiaan pun pernah gagal mempertahankan dirinya sendiri.

Avatar
Reblogged
Pondasi dari Mencintai yang Hebat adalah Berpikir dengan Tajam

Hubungan benar-benar perlu dibangun oleh dua orang yang mau saling berpikir.

Misalnya dimulai dari berfikir untuk membaca diri sendiri, artinya tahu apa yang kita bawa ke dalam sebuah hubungan: pola yang kita ulangi, kebutuhan yang belum pernah kita akui, cara kita merespons ketika tertekan. Karena ketika kita tidak memeriksa tentang diri sendiri, akan terjadi kecenderungan menyalahkan pasangan atas sesuatu yang boleh jadi sebenarnya berakar dari dalam diri sendiri.

Selain itu perlu berfikir untuk mencoba melihat pasangan apa adanya, tanpa proyeksi apapun dari yang di harapkan. Ini butuh kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak akan mengenal dia seutuhnya, dinamisnya sikap manusia menjadikan perlunya keberanian untuk terus berfikir dan terus ingin tahu.

Dari dua kemampuan membaca itulah keputusan yang tepat lahir.

Keputusan dalam relasi hadir setiap hari, tertuang dalam cara merespons ketika pasangan sedang lelah, dalam pilihan untuk bicara atau diam di waktu yang tepat, dalam kesediaan mengakui salah bahkan ketika ego menolak.

Keputusan terbaik takkan pernah bisa lahir tanpa berpikir. Ketajaman berfikir menghasilkan kebijaksanan saat harus mengalah, kapan harus bicara, kapan harus mengoreksi dan yang paling sulit, kapan harus mengakui bahwa yang perlu dikoreksi adalah diri sendiri.

Relasi yang berjalan tanpa pemikiran pasti akan berjalan di atas kebiasaan, merespons secara otomatis tanpa benar-benar mempertimbangkan apa yang dibutuhkan situasi itu. Hasilnya tentunya akan stagnan, sulit untuk hubungannya tumbuh.

Mencintai yang hebat pada akhirnya harus terus aktif memikirkan kebahagiaan pasangan, memikirkan apa yang membuatnya baik, apa yang ia butuhkan yang mungkin belum ia ucapkan, dan bagaimana hadir dengan cara yang paling berarti baginya.

Dibalik kebahagiaan sebuah pasangan akan selalu ada usaha saling memahami apa yang baik menurut satu sama lain, dalam kondisi dan cara yang paling di butuhkan.

Setiap pasangan perlu berfikir dengan tajam untuk meningkatkan kualitas hidup bersama. Kualitas yang dirasakan dari dalam dimana dua orang merasa benar-benar terus dikenal, dimengerti, dan terus tumbuh satu sama lain. Di mana ada keberanian untuk saling mengoreksi karena dasarnya adalah ingin yang terbaik untuk satu sama lain.

Cinta yang hebat lahir dari pikiran yang tajam, keputusan yang matang, dan kesediaan untuk terus belajar menjadi lebih baik bagi orang yang dipilih.

Hai, pria yang bergelar anak pertama.

Apa kabar hari ini?

Ah, pertanyaan macam apa itu?

Bukankah sejak kecil kau sudah dilatih menjawab, “Aku baik-baik saja,” bahkan ketika sebenarnya kau tidak?

Kau terlalu cepat belajar menjadi dewasa.

Sementara anak-anak lain sibuk mencari tempat untuk bermain, kau mungkin sudah belajar memahami keadaan. Belajar membaca wajah orang tua. Belajar kapan harus diam. Kapan harus mengalah. Kapan harus membantu. Kapan harus menyimpan keinginan sendiri karena ada sesuatu yang lebih penting daripada dirimu.

Kau tumbuh dengan satu gelar yang tak pernah kau minta:

anak pertama.

Gelar yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam membawa begitu banyak tuntutan.

Harus menjadi contoh.
Harus mengerti.
Harus kuat.
Harus bisa diandalkan.

Harus tahu bagaimana menyelesaikan sesuatu, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang pernah mengajarimu caranya.

Dan yang paling menyakitkan—

kau seolah tidak diberi hak untuk gagal terlalu lama.

Sebab ketika kau jatuh, ada suara kecil di kepalamu yang berkata:

“Jangan lama-lama. Masih banyak yang harus dipikirkan.”

Maka kau bangkit.

Bukan karena tidak sakit.

Tetapi karena kau merasa tidak punya kemewahan untuk berlama-lama menjadi lemah.

Hai, pria yang bergelar anak pertama.

Berapa banyak keinginanmu yang kau kubur diam-diam?

Berapa banyak keputusan yang kau ambil bukan karena kau menginginkannya, tetapi karena keadaan menuntutmu demikian?

Berapa kali kau ingin berkata,

“Aku juga ingin diperhatikan.”

Tetapi kalimat itu berhenti di tenggorokan karena kau merasa terlalu tua untuk meminta.

Lucu, bukan?

Kau bisa menjadi tempat orang lain pulang, tetapi sering kali tidak tahu harus pulang ke mana ketika dirimu sendiri sedang hancur.

Kau bisa mendengarkan keluhan semua orang, tetapi ketika giliranmu ingin bercerita, kau malah berkata,

“Nggak apa-apa.”

Padahal ada begitu banyak apa-apa di dalam kepalamu.

Tentang uang.
Tentang keluarga.
Tentang masa depan.
Tentang pekerjaan.
Tentang kegagalan.

Tentang bagaimana caranya menjadi seseorang yang cukup—

cukup berhasil,
cukup kuat,
cukup dewasa,
cukup membanggakan.

Dan mungkin diam-diam kau takut.

Takut suatu hari nanti orang-orang yang kau cintai membutuhkanmu, sementara kau sendiri belum selesai menyelamatkan dirimu.

Kau takut tidak mampu.

Takut mengecewakan.

Takut menjadi anak pertama yang ternyata tidak sehebat yang mereka kira.

Maka kau bekerja lebih keras.

Berpikir lebih jauh.

Menahan lebih banyak.

Dan semakin lama, kau lupa bahwa di balik semua tanggung jawab itu, masih ada seorang anak laki-laki yang dahulu juga ingin dipeluk tanpa harus terlebih dahulu menjadi berguna.

Hai, pria yang bergelar anak pertama.

Dengarkan aku sebentar.

Kau tidak harus menjadi penyelamat semua orang.

Keluargamu mencintaimu bukan semata-mata karena apa yang bisa kau berikan.

Dan kalau suatu hari kau tidak punya tenaga untuk membantu, itu tidak otomatis menjadikanmu anak yang buruk.

Kalau kau ingin berhenti sebentar, berhentilah.

Kalau kau ingin menangis, menangislah.

Kalau kau ingin mengeluh kepada Tuhan, mengeluhlah.

Katakan saja:

“Tuhan, aku lelah.”

Tidak perlu kalimat yang indah.

Tidak perlu doa yang panjang.

Sebab mungkin Tuhan lebih tahu daripada siapa pun tentang betapa beratnya menjadi dirimu.

Kau hanya seorang pria.

Bukan mesin.

Bukan benteng.

Bukan tiang yang harus selalu berdiri meski diterpa badai.

Kau juga manusia.

Dan manusia boleh lelah.

Jadi, hai pria yang bergelar anak pertama—

kalau hari ini kau merasa ingin menyerah, jangan buru-buru membenci dirimu sendiri.

Mungkin kau bukan sedang kehilangan arah.

Mungkin kau hanya sudah terlalu lama berjalan tanpa pernah diberi kesempatan untuk beristirahat.

Pulanglah sebentar kepada dirimu.

Letakkan semua gelar itu di depan pintu.

Anak pertama.
Kakak.
Lelaki.
Tulang punggung.
Harapan keluarga.

... Letakkan semuanya.

Untuk beberapa saat, jadilah dirimu sendiri.

Tidak perlu menjadi siapa-siapa.

Tidak perlu membuktikan apa-apa.

Dan bila malam terlalu sunyi, duduklah di sana.

Tarik napas.

Pelan-pelan.

Katakan kepada dirimu sendiri:

“Aku tahu kau sudah berusaha sejauh ini.”

“Terima kasih karena masih bertahan.”

Besok, mungkin kita akan kembali menjadi anak pertama.

Kembali menjadi lelaki yang diharapkan kuat.

Kembali mengurus banyak hal yang belum selesai.

Tetapi malam ini—

biarkan aku memelukmu sebagai seorang manusia yang sedang lelah.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Hanya seorang pria yang sejak awal terlalu sering diminta kuat,

padahal sebenarnya,

ia juga ingin sekali ditanya:

“Kamu sendiri bagaimana?”
Hai, pria yang bergelar anak pertama.

Apa kabar hari ini?

Ah, pertanyaan macam apa itu?

Bukankah sejak kecil kau sudah dilatih menjawab, “Aku baik-baik saja,” bahkan ketika sebenarnya kau tidak?

Kau terlalu cepat belajar menjadi dewasa.

Sementara anak-anak lain sibuk mencari tempat untuk bermain, kau mungkin sudah belajar memahami keadaan. Belajar membaca wajah orang tua. Belajar kapan harus diam. Kapan harus mengalah. Kapan harus membantu. Kapan harus menyimpan keinginan sendiri karena ada sesuatu yang lebih penting daripada dirimu.

Kau tumbuh dengan satu gelar yang tak pernah kau minta:

anak pertama.

Gelar yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam membawa begitu banyak tuntutan.

Harus menjadi contoh.
Harus mengerti.
Harus kuat.
Harus bisa diandalkan.

Harus tahu bagaimana menyelesaikan sesuatu, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang pernah mengajarimu caranya.

Dan yang paling menyakitkan—

kau seolah tidak diberi hak untuk gagal terlalu lama.

Sebab ketika kau jatuh, ada suara kecil di kepalamu yang berkata:

“Jangan lama-lama. Masih banyak yang harus dipikirkan.”

Maka kau bangkit.

Bukan karena tidak sakit.

Tetapi karena kau merasa tidak punya kemewahan untuk berlama-lama menjadi lemah.

Hai, pria yang bergelar anak pertama.

Berapa banyak keinginanmu yang kau kubur diam-diam?

Berapa banyak keputusan yang kau ambil bukan karena kau menginginkannya, tetapi karena keadaan menuntutmu demikian?

Berapa kali kau ingin berkata,

“Aku juga ingin diperhatikan.”

Tetapi kalimat itu berhenti di tenggorokan karena kau merasa terlalu tua untuk meminta.

Lucu, bukan?

Kau bisa menjadi tempat orang lain pulang, tetapi sering kali tidak tahu harus pulang ke mana ketika dirimu sendiri sedang hancur.

Kau bisa mendengarkan keluhan semua orang, tetapi ketika giliranmu ingin bercerita, kau malah berkata,

“Nggak apa-apa.”

Padahal ada begitu banyak apa-apa di dalam kepalamu.

Tentang uang.
Tentang keluarga.
Tentang masa depan.
Tentang pekerjaan.
Tentang kegagalan.

Tentang bagaimana caranya menjadi seseorang yang cukup—

cukup berhasil,
cukup kuat,
cukup dewasa,
cukup membanggakan.

Dan mungkin diam-diam kau takut.

Takut suatu hari nanti orang-orang yang kau cintai membutuhkanmu, sementara kau sendiri belum selesai menyelamatkan dirimu.

Kau takut tidak mampu.

Takut mengecewakan.

Takut menjadi anak pertama yang ternyata tidak sehebat yang mereka kira.

Maka kau bekerja lebih keras.

Berpikir lebih jauh.

Menahan lebih banyak.

Dan semakin lama, kau lupa bahwa di balik semua tanggung jawab itu, masih ada seorang anak laki-laki yang dahulu juga ingin dipeluk tanpa harus terlebih dahulu menjadi berguna.

Hai, pria yang bergelar anak pertama.

Dengarkan aku sebentar.

Kau tidak harus menjadi penyelamat semua orang.

Keluargamu mencintaimu bukan semata-mata karena apa yang bisa kau berikan.

Dan kalau suatu hari kau tidak punya tenaga untuk membantu, itu tidak otomatis menjadikanmu anak yang buruk.

Kalau kau ingin berhenti sebentar, berhentilah.

Kalau kau ingin menangis, menangislah.

Kalau kau ingin mengeluh kepada Tuhan, mengeluhlah.

Katakan saja:

“Tuhan, aku lelah.”

Tidak perlu kalimat yang indah.

Tidak perlu doa yang panjang.

Sebab mungkin Tuhan lebih tahu daripada siapa pun tentang betapa beratnya menjadi dirimu.

Kau hanya seorang pria.

Bukan mesin.

Bukan benteng.

Bukan tiang yang harus selalu berdiri meski diterpa badai.

Kau juga manusia.

Dan manusia boleh lelah.

Jadi, hai pria yang bergelar anak pertama—

kalau hari ini kau merasa ingin menyerah, jangan buru-buru membenci dirimu sendiri.

Mungkin kau bukan sedang kehilangan arah.

Mungkin kau hanya sudah terlalu lama berjalan tanpa pernah diberi kesempatan untuk beristirahat.

Pulanglah sebentar kepada dirimu.

Letakkan semua gelar itu di depan pintu.

Anak pertama.
Kakak.
Lelaki.
Tulang punggung.
Harapan keluarga.

... Letakkan semuanya.

Untuk beberapa saat, jadilah dirimu sendiri.

Tidak perlu menjadi siapa-siapa.

Tidak perlu membuktikan apa-apa.

Dan bila malam terlalu sunyi, duduklah di sana.

Tarik napas.

Pelan-pelan.

Katakan kepada dirimu sendiri:

“Aku tahu kau sudah berusaha sejauh ini.”

“Terima kasih karena masih bertahan.”

Besok, mungkin kita akan kembali menjadi anak pertama.

Kembali menjadi lelaki yang diharapkan kuat.

Kembali mengurus banyak hal yang belum selesai.

Tetapi malam ini—

biarkan aku memelukmu sebagai seorang manusia yang sedang lelah.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Hanya seorang pria yang sejak awal terlalu sering diminta kuat,

padahal sebenarnya,

ia juga ingin sekali ditanya:

“Kamu sendiri bagaimana?”
Hai, pria yang bergelar anak pertama.

Apa kabar hari ini?

Ah, pertanyaan macam apa itu?

Bukankah sejak kecil kau sudah dilatih menjawab, “Aku baik-baik saja,” bahkan ketika sebenarnya kau tidak?

Kau terlalu cepat belajar menjadi dewasa.

Sementara anak-anak lain sibuk mencari tempat untuk bermain, kau mungkin sudah belajar memahami keadaan. Belajar membaca wajah orang tua. Belajar kapan harus diam. Kapan harus mengalah. Kapan harus membantu. Kapan harus menyimpan keinginan sendiri karena ada sesuatu yang lebih penting daripada dirimu.

Kau tumbuh dengan satu gelar yang tak pernah kau minta:

anak pertama.

Gelar yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam membawa begitu banyak tuntutan.

Harus menjadi contoh.
Harus mengerti.
Harus kuat.
Harus bisa diandalkan.

Harus tahu bagaimana menyelesaikan sesuatu, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang pernah mengajarimu caranya.

Dan yang paling menyakitkan—

kau seolah tidak diberi hak untuk gagal terlalu lama.

Sebab ketika kau jatuh, ada suara kecil di kepalamu yang berkata:

“Jangan lama-lama. Masih banyak yang harus dipikirkan.”

Maka kau bangkit.

Bukan karena tidak sakit.

Tetapi karena kau merasa tidak punya kemewahan untuk berlama-lama menjadi lemah.

Hai, pria yang bergelar anak pertama.

Berapa banyak keinginanmu yang kau kubur diam-diam?

Berapa banyak keputusan yang kau ambil bukan karena kau menginginkannya, tetapi karena keadaan menuntutmu demikian?

Berapa kali kau ingin berkata,

“Aku juga ingin diperhatikan.”

Tetapi kalimat itu berhenti di tenggorokan karena kau merasa terlalu tua untuk meminta.

Lucu, bukan?

Kau bisa menjadi tempat orang lain pulang, tetapi sering kali tidak tahu harus pulang ke mana ketika dirimu sendiri sedang hancur.

Kau bisa mendengarkan keluhan semua orang, tetapi ketika giliranmu ingin bercerita, kau malah berkata,

“Nggak apa-apa.”

Padahal ada begitu banyak apa-apa di dalam kepalamu.

Tentang uang.
Tentang keluarga.
Tentang masa depan.
Tentang pekerjaan.
Tentang kegagalan.

Tentang bagaimana caranya menjadi seseorang yang cukup—

cukup berhasil,
cukup kuat,
cukup dewasa,
cukup membanggakan.

Dan mungkin diam-diam kau takut.

Takut suatu hari nanti orang-orang yang kau cintai membutuhkanmu, sementara kau sendiri belum selesai menyelamatkan dirimu.

Kau takut tidak mampu.

Takut mengecewakan.

Takut menjadi anak pertama yang ternyata tidak sehebat yang mereka kira.

Maka kau bekerja lebih keras.

Berpikir lebih jauh.

Menahan lebih banyak.

Dan semakin lama, kau lupa bahwa di balik semua tanggung jawab itu, masih ada seorang anak laki-laki yang dahulu juga ingin dipeluk tanpa harus terlebih dahulu menjadi berguna.

Hai, pria yang bergelar anak pertama.

Dengarkan aku sebentar.

Kau tidak harus menjadi penyelamat semua orang.

Keluargamu mencintaimu bukan semata-mata karena apa yang bisa kau berikan.

Dan kalau suatu hari kau tidak punya tenaga untuk membantu, itu tidak otomatis menjadikanmu anak yang buruk.

Kalau kau ingin berhenti sebentar, berhentilah.

Kalau kau ingin menangis, menangislah.

Kalau kau ingin mengeluh kepada Tuhan, mengeluhlah.

Katakan saja:

“Tuhan, aku lelah.”

Tidak perlu kalimat yang indah.

Tidak perlu doa yang panjang.

Sebab mungkin Tuhan lebih tahu daripada siapa pun tentang betapa beratnya menjadi dirimu.

Kau hanya seorang pria.

Bukan mesin.

Bukan benteng.

Bukan tiang yang harus selalu berdiri meski diterpa badai.

Kau juga manusia.

Dan manusia boleh lelah.

Jadi, hai pria yang bergelar anak pertama—

kalau hari ini kau merasa ingin menyerah, jangan buru-buru membenci dirimu sendiri.

Mungkin kau bukan sedang kehilangan arah.

Mungkin kau hanya sudah terlalu lama berjalan tanpa pernah diberi kesempatan untuk beristirahat.

Pulanglah sebentar kepada dirimu.

Letakkan semua gelar itu di depan pintu.

Anak pertama.
Kakak.
Lelaki.
Tulang punggung.
Harapan keluarga.

... Letakkan semuanya.

Untuk beberapa saat, jadilah dirimu sendiri.

Tidak perlu menjadi siapa-siapa.

Tidak perlu membuktikan apa-apa.

Dan bila malam terlalu sunyi, duduklah di sana.

Tarik napas.

Pelan-pelan.

Katakan kepada dirimu sendiri:

“Aku tahu kau sudah berusaha sejauh ini.”

“Terima kasih karena masih bertahan.”

Besok, mungkin kita akan kembali menjadi anak pertama.

Kembali menjadi lelaki yang diharapkan kuat.

Kembali mengurus banyak hal yang belum selesai.

Tetapi malam ini—

biarkan aku memelukmu sebagai seorang manusia yang sedang lelah.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Hanya seorang pria yang sejak awal terlalu sering diminta kuat,

padahal sebenarnya,

ia juga ingin sekali ditanya:

“Kamu sendiri bagaimana?”

Sepi ini bahkan telah lupa bagaimana caranya memiliki pemilik. Ia duduk di sudut-sudut waktu, memunggungi dunia, seolah kesendirian pun enggan mengakuinya sebagai saudara. Aku berada di dalamnya, namun tak lagi dapat memastikan apakah aku sedang menemani sepi, atau justru sepi yang sedang meratapi ketiadaanku.

Ada hari-hari ketika keberadaanku hanya menjadi gema yang tak menemukan dinding untuk dipantulkan. Namaku terdengar asing di telingaku sendiri. Wajahku terasa seperti topeng yang dikenakan oleh seseorang yang telah lama pergi. Barangkali, yang tersisa hanyalah tubuh yang masih berjalan, sementara diri telah diam-diam meninggalkan alamat keberadaan.

Sepi yang menyendiri tanpa diri adalah ruang yang tak mengenal pintu maupun jendela. Ia bukan kegelapan, sebab bahkan gelap masih memiliki cahaya yang pernah hilang. Ia adalah ketiadaan yang perlahan belajar menjadi keberadaan, hingga kesunyian pun kehilangan makna untuk disebut sunyi.

Aku tak lagi mencari percakapan. Sebab kata-kata hanyalah upaya bahasa untuk menutupi jurang yang tak pernah selesai digali. Di hadapan kehampaan, setiap kalimat gugur sebelum sempat menjadi makna.

Mungkin inilah bentuk paling jujur dari eksistensi: ketika seseorang tak lagi merasa sendiri karena telah kehilangan dirinya sendiri. Tidak ada yang perlu ditunggu, tidak ada yang perlu ditinggalkan. Yang ada hanyalah waktu yang terus berjalan, menggendong kehampaan dari satu detik menuju detik berikutnya.

Dan bila kelak seseorang bertanya di mana aku berada, jangan sebut namaku. Katakan saja, ada sepi yang sedang menyendiri—tanpa diri, tanpa tujuan, tanpa ingin ditemukan.

@gramabiru | s.elf

Ada saat ketika cinta berhenti menjadi perasaan. Ia berubah menjadi sebilah sunyi yang menghujam asa tanpa pernah mengeluarkan darah. Luka itu hidup, tetapi tak memiliki bentuk; nyerinya nyata, namun tak pernah berhasil ditunjukkan kepada siapa pun.

Aku pernah mengira cinta adalah tempat pulang. Ternyata ia hanya persinggahan yang mengajariku betapa rapuhnya harapan ketika digantungkan pada manusia. Semakin dalam aku berharap, semakin tajam ujung kenyataan menembus dada. Asa yang kubangun perlahan menjelma makam bagi mimpi-mimpi yang belum sempat bernapas.

Kini cinta tak lagi biasa. Ia bukan lagi sekadar rindu yang menunggu temu, melainkan ruang hampa yang terus meminta untuk diisi, padahal telah lama kutahu tak ada yang benar-benar mampu mengisinya. Setiap kenangan menjadi gema, memantulkan namamu pada dinding-dinding kesendirian yang tak berujung.

Aku belajar bahwa menghujam asa bukanlah tentang membunuh harapan, melainkan membiarkannya menembus diriku hingga aku mengerti: tidak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki. Ada cinta yang hanya datang untuk mengajarkan kehilangan sebelum sempat mengajarkan kebersamaan.

Maka biarlah aku berjalan bersama luka yang tak lagi mencari obat. Sebab mungkin, di antara segala yang telah patah, hanya keikhlasan yang masih sanggup berdiri. Dan jika suatu hari aku kembali mencintai, semoga bukan karena ingin mengisi kehampaan, melainkan karena aku telah selesai berdamai dengan segala asa yang pernah menghujamku.

@gramabiru | as.a

Mereka mengajarkanku sebuah mantra sejak lahir: milikilah.

Milikilah nama agar dikenang. Milikilah rumah agar disebut berhasil. Milikilah tubuh agar dicintai. Milikilah seseorang agar sepi memiliki alasan untuk diam.

Lalu aku bertanya kepada malam, mengapa setiap kepemilikan selalu meminta tumbal?

Rumah menuntut umur. Harta menuntut waktu. Cinta menuntut kebebasan. Bahkan kenangan pun meminta air mata agar tetap hidup.

Barangkali kepemilikan hanyalah sihir paling tua yang pernah diciptakan manusia. Ia membisikkan bahwa segala yang indah harus berada di genggaman. Padahal, bunga tetap mekar tanpa menjadi milik siapa pun. Langit tetap biru tanpa menyebut satu nama sebagai pemiliknya.

Yang kita sebut "milikku" hanyalah sesuatu yang belum sempat pergi.

Maka aku memilih menjadi pengembara di antara hal-hal yang kucintai. Menatap tanpa merantai. Mencintai tanpa mengurung. Sebab cinta yang berubah menjadi kepemilikan hanyalah kesepian yang menemukan topeng baru.

Dan ketika mantra itu kembali dibisikkan ke telingaku—

"Milikilah."

Aku menjawab pelan,

"Tidak. Aku ingin belajar melepaskan, sebab hanya yang bebas yang mampu benar-benar tinggal."

@gramabiru | poses

Aku tidak membenci cinta. Aku hanya belum menemukan alasan mengapa ia harus menempati ruang yang telah lama kubangun dengan kesendirian. Kebebasan bukan pelarian bagiku; ia adalah rumah. Jika suatu hari seseorang mengetuk pintunya, ia harus paham bahwa rumah ini tidak dibangun untuk dikuasai, melainkan untuk saling menghormati.

Jika pertanyaan mu adalah "kita jalani aja dulu, menjalani yang seperti apa?"

Sejujurnya, aku tidak ingin memberi nama apa atas yang akan dijalani, biarkan saja menggantung. Dan lagi, aku tak ingin sebuah validasi yang mengatasnamakan "diriku atau dirimu adalah kepemilikan."

Ribet.

Iya, jika saat menjalaninya perasaan dan cinta itu tumbuh maka biarkan saja. Ia berhak tumbuh tanpa harus menolak. Jika menjalaninya cinta tak kunjung tumbuh dan hanya kesamaan pikiran dan visi maka biarkan pandangan yang akan nantinya menjadi fundamental atas "haruskah memiliki atau tidak?"

Sejatinya, aku telah berjalan sejauh ini sendirian. bukan tidak mungkin nantinya akan berjalan berdua meski tanpa cinta atau hanya sebuah visi yang melatarbelakanginya.

Sebut saja aku tak mengizinkan diriku dimiliki.

Barangkali cinta yang paling sunyi adalah cinta yang tak pernah meminta tubuh sebagai bukti. Ia hidup sebagai gagasan, sebagai kemungkinan, sebagai langit yang tak pernah benar-benar disentuh burung. Kita menyebutnya platonis, seolah kata itu cukup suci untuk menyembunyikan segala luka yang dikandungnya.

Aku mencintaimu tanpa pernah sampai kepadamu.

Di antara kita, waktu bersenggama dengan kefanaan, melahirkan kenangan yang bahkan tak memiliki masa lalu. Yang ada hanya bayang-bayang tentang sesuatu yang mungkin terjadi, namun sejak semula telah dihukum menjadi mustahil.

Kehampaan adalah medium yang paling setia. Ia mereplikasi namamu ke setiap ruang yang gagal diisi kehadiran. Pada dinding kamar, pada jeda percakapan, pada malam yang terlalu panjang untuk disebut tidur. Semakin kucoba menghapusmu, semakin banyak salinanmu tumbuh di dalam diam.

Lalu keheningan dipaksa membisu.

Betapa ironis. Bahkan sunyi kehilangan hak untuk bersuara ketika rindu telah melampaui bahasa. Tak ada lagi kalimat yang sanggup menanggung beratnya kehilangan atas sesuatu yang tak pernah benar-benar dimiliki. Yang tersisa hanyalah napas yang terdengar seperti doa, tetapi tak lagi percaya kepada langit.

Mungkin beginilah nasib cinta yang terlalu mencintai ide tentang seseorang. Ia tidak mati karena penolakan, tidak pula hidup karena harapan. Ia menggantung di antara ada dan tiada, menjadi monumen bagi kemungkinan-kemungkinan yang dikuburkan sebelum sempat dilahirkan.

Dan aku tetap tinggal di sana—di ruang yang tak mengenal pertemuan maupun perpisahan—mencintaimu sebagai sebuah konsep, sementara semesta dengan tenang mengajarkan bahwa bahkan keabadian pun hanyalah bentuk lain dari kefanaan yang menolak mengaku telah berakhir.

@gramabiru | fanatonis

Aku bukan patah karena ditinggalkan.

Aku patah karena tetap utuh di tempat yang salah.

Barangkali cinta memang diciptakan untuk menguji seberapa lama manusia sanggup memeluk paradoks: ingin memiliki, sambil tahu bahwa setiap yang dimiliki sedang belajar menjadi kehilangan.

Aku adalah puisi yang gagal selesai.

Setiap baitku tumbuh menjadi luka, setiap jedaku melahirkan gema yang tak pernah menemukan telinga.

Barangkali aku bukan manusia lagi.

Aku hanya entitas yang terbuat dari sisa-sisa harapan, berjalan tanpa tubuh, bernapas tanpa paru-paru, hidup tanpa benar-benar dilahirkan.

Kau datang seperti hujan yang membakar.

Mustahil, namun aku terbakar karenanya.

Kau pergi seperti api yang membekukan.

Mustahil, namun sejak itu seluruh musim di dadaku berhenti bergerak.

Betapa anehnya semesta.

Ia mengajarkan bahwa sesuatu dapat mati tanpa pernah hidup, dan dapat hidup hanya karena belum selesai mati.

Aku menyebutnya terprosakan—keadaan ketika jiwa tak lagi sekadar rusak, melainkan tercerai dari makna yang pernah menyusunnya. Seolah seluruh serpihan diri masih berada di tempatnya, tetapi tak ada satu pun yang mengenali yang lain.

Kini aku berjalan membawa puing-puing yang masih menyebut dirinya rumah.

Aku tertawa agar tangisku memiliki alasan.

Aku mencintaimu agar kehilanganku memiliki nama.

Dan jika suatu hari kau menemukan puisi ini, jangan mencariku di antara kata-katanya.

Sebab yang menulisnya telah lama lenyap.

Yang tersisa hanyalah metafora yang berpura-pura menjadi manusia.

@gramabiru | terprosakan

jangan mencariku di keramaian,

jangan mencariku di sudut perpustakaan,

jangan mencariku di ruang ruang gelap,

jangan mencariku di belahan dunia yang bekerja,

jangan mencariku di tempat yang terikat,

jangan cari aku di raga-raga yang kau sebut rumah.

kau berhak menemukan ku,

kau berhak,

kau juga berhak untuk lampiran halaman yang kusam itu,

kau juga berhak pada jasad yang tertimbun didalam tanah itu.

kau berhak atas aset ciptaan ku,

cari dan kau berhak.