Patih
Patih (Jawi: ڤاتيه serapan Sangsakerta पति pati "tuan", juga ڤاتي pati dalam manuskrip lama)[1] atau pateh adalah jawatan tinggi pernah wujud dalam kerajaan-kerajaan serata Nusantara, pemegangnya umum melaksana pemerintahan di bawah seorang raja penguasa yang boleh dianggap setara dengan Perdana Menteri.[2] Patih juga berperanan sebagai penguasa daerah tertinggi di sana, seperti pada zaman akhir Majapahit tiadanya kepimpinan uparaja.[3]

Dalam sejarah
suntingDi Jawa
suntingJawatan patih mementing zaman Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Majapahit. Dalam kitab Pararaton, dikisahkan bahawa pada masa kekuasaan raja Kertanegara, patihnya pada saat itu adalah Raganatha, yang pada peristiwa pemberontakan Jayakatwang, sudah tua renta. Saat keraton Singasari diserbu pemberontak, Patih Raganatha setia dengan raja Kertanegara dan ikut gugur pada peristiwa tersebut, sehingga Singasari kehilangan kepala negara dan kepala pemerintahan sekaligus dan runtuh.
Kerajaan Majapahit yang muncul sinambungan penerus Singasari didirikan oleh Raden Wijaya, juga tidak lama setelah penobatannya mengangkat menteri-menteri pejabat Majapahit, termasuk patih amangkubhumi (perdana menteri). Sengketa mengenai pengangkatan patih inilah yang memicu pemberontakan pertama dalam sejarah Majapahit, yaitu pemberontakan Rangga Lawe. Pararaton mengisahkan bahwa Rangga Lawe awalnya berharap akan diangkat menjadi patih setelah Majapahit didirikan. Namun, Raden Wijaya malah memilih Nambi untuk menjadi Patih Majapahit pertama. Rangga Lawe yang kecewa menggalang kekuatan untuk memberontak, tetapi akhirnya gugur dalam Pertempuran Sungai Tambak Beras.
Dalam sejarah Majapahit, jabatan patih di pusat memiliki gelar resmi yaitu rakryan apatih amangkubhumi, atau biasa disebut mapatih, apatih atau patih. Pejabat patih amangkubhumi Majapahit yang paling tersohor adalah Gajah Mada, yang menggantikan Arya Tadah yang sudah tua. Selain patih amangkubhumi, setiap negara bawahan juga memiliki patih-nya masing-masing, berkedudukan di bawah penguasa monarki vazal bergelar 'Bhre', contohnya adalah seperti Gajah Mada yang pernah menjabat sebagai Patih Kahuripan, dan kemudian menjabat sebagai Patih Daha.
Di Borneo
suntingGelaran pateh turut tercatat dalam Syair Awang Semaun menggalurkan beberapa adik Awang Alak Betatar pengasas kerajaan Brunei iaitu Pateh Mambang dan Pateh Tuba di Luba: Pateh Sangkuna dan Pateh Manggurun di Saba, Pateh Malakai di Bukit Panggal, Pateh Pahit di Labuhan Kapal, Pateh Sindayung di Panchor Papan,Pateh Berbai, dan Pateh Laila Langgong. Pateh Berbai sendirinya nama yang diberikan kepada Sultan Ahmad sebelum memeluk agama Islam.[4]
Patih di kerajaan-kerajaan Kalimantan dulukala, adalah para pengelola bandar-bandar). Seperti yang kita baca Patih Masih adalah administrator bandar yang bernama Masih yaitu di muara Sungai Barito bahagian Timur (Bandarmasih, Kota Banjarmasin sekarang). Ada juga Patih Bahan yang menjadi administrator bandar bernama Bahan di muara Sungai Barito bagian Barat (Muarabahan, Marabahan sekarang).
Di Kerajaan Banjar digunakan pada abad ke-15 bererti:
- mangkubumi
- kepala desa/daerah (bahasa Maanyan: Patis), misalnya Patih Kuin, Patih Rumbih
- menteri misalnya Patih Baras, Patih Luhu/Lau, Patih Dulu.
Di Sumatera
suntingDatuk Perpatih Nan Sebatang adalah paduka raja yang dikenal sebagai Sultan Balun sebelum menjadi Datuk (Paduka Raja) di Pagaruyung. Beliau dikenal sebagai leluhur atau seorang yang membuat suku Caniago yang kemudian memutuskan untuk hidup bermuafakat; adat dipegang para datuak ini menjadi Adat Perpatih.
Lihat pula
suntingRujukan
sunting- ^ Hoogervorst, Tom (2021), "South Asian influence on the languages of Southeast Asia", dalam Sidwell, Paul; Jenny, Mathias (penyunting), The Languages and Linguistics of Mainland Southeast Asia (dalam bahasa Inggeris), De Gruyter Mouton, m/s. 633, ISBN 978-3-11-055814-2
- ^ crew, kraton. "Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggeris). Dicapai pada 2023-09-10.
- ^ C., G. R.; Cortesao, Armando (1946-10). "The Suma Oriental of Tome Pires 1512-15; And the Book of Francisco Rodrigues". The Geographical Journal. 108 (4/6): 252. doi:10.2307/1789849. ISSN 0016-7398. Check date values in:
|date=(bantuan) - ^ Ooi KeatGin; Victor T. King (2022-07-29). Routledge Handbook of Contemporary Brunei. Taylor & Francis. m/s. 254. ISBN 978-1-000-56864-6. Cite has empty unknown parameter:
|1=(bantuan)