Rasisme di Italia merujuk pada keberadaan hubungan antagonistik antara orang Italia dan kelompok-kelompok lain dari berbagai latar etnis, suatu fenomena yang telah muncul dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah negara tersebut. Meskipun gagasan diskriminatif telah lama hadir dalam konteks internal—misalnya perbedaan perlakuan terhadap kelompok-kelompok dari wilayah Italia yang berbeda—manifestasi rasisme yang terarah ke luar negeri mulai terlihat secara jelas ketika Kerajaan Italia mengambil bagian dalam proyek kolonialisme pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pada periode ini, Italia melakukan invasi dan kolonisasi terhadap sejumlah negara Afrika dalam upaya membangun sebuah imperium kolonial.[1] Namun, kebijakan terkait anak-anak “meticci” (keturunan campuran antara orang Italia dan penduduk setempat) kerap tidak konsisten dan menimbulkan kebingungan, menunjukkan ambiguitas dalam pendekatan pemerintah kolonial terhadap identitas rasial.

Sejarah

sunting

Pada masa rezim Fasis Benito Mussolini (1922–1943), negara menerapkan serangkaian kebijakan rasis yang jauh lebih sistematis.[2] Di antaranya termasuk undang-undang antisemit yang membatasi hak sipil warga Yahudi serta kebijakan yang menghalangi migrasi internal tertentu.[3] Kebijakan-kebijakan ini diberlakukan tidak lama setelah Italia memperkuat hubungan politik dan militer dengan Jerman Nazi. Setelah Mussolini dijatuhkan, pemerintahan Badoglio[4] mencabut Undang-Undang Rasial di wilayah Kerajaan Italia. Namun, hukum yang bersifat rasis tetap diberlakukan—bahkan diperketat—di wilayah yang dikuasai Republik Sosial Italia (1943–1945) sampai berakhirnya Perang Dunia II.[5]

Pada masa pascaperang, perpindahan penduduk secara besar-besaran dari Italia bagian selatan menuju kawasan utara yang lebih maju secara industri menimbulkan ketegangan sosial dan prasangka antarkelompok dalam masyarakat Italia. Migrasi tahap berikutnya terjadi pada akhir 1980-an ketika kedatangan para extracomunitari (istilah bagi imigran di luar Uni Eropa, seringkali digunakan dengan konotasi negatif) memunculkan dinamika politik yang baru. Gerakan politik seperti Lega Nord tumbuh dengan retorika yang secara bersamaan memusuhi terroni[6] (sebuah cercaan terhadap penduduk Italia selatan) dan clandestini[7] (pejoratif bagi imigran “ilegal”). Sentimen ini terutama diarahkan kepada pendatang dari luar Eropa Barat dan wilayah selatan Mediterania, memperdalam diskriminasi rasial dalam wacana publik.[8]

Pada abad ke-21, berbagai lembaga internasional menyoroti meningkatnya xenofobia dalam masyarakat Italia. Laporan Human Rights Watch pada tahun 2011 menunjukkan gejala peningkatan sikap diskriminatif. Survei Pew Research Center tahun 2017 bahkan mengidentifikasi Italia sebagai negara paling rasis di Eropa Barat. Temuan dari survei Sgw pada 2019 memperlihatkan bahwa 55% responden Italia menganggap tindakan rasis dapat dibenarkan dalam kondisi tertentu.[9] Pada 2020, ketika Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi untuk mengecam rasisme struktural dan kekerasan bermotif rasial, sekitar setengah dari anggota parlemen Italia memilih menolak resolusi tersebut—sesuatu yang turut memperkuat persepsi adanya resistensi politik terhadap upaya antirasisme.[10]

Data opini publik juga mencerminkan masalah yang lebih mendalam: survei YouGov tahun 2020 menunjukkan bahwa warga Italia menilai prasangka rasial sebagai penyebab kedua paling umum dari tindakan diskriminasi di negara tersebut. Laporan Eurispes pada tahun yang sama mengungkapkan bahwa 15,6% warga Italia menyangkal terjadinya Holocaust, sementara hampir seperempat populasi (23,9%) percaya pada teori konspirasi antisemit yang mengklaim bahwa kelompok Yahudi mengendalikan perekonomian Italia. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa bias rasial dan antisemitisme tetap memiliki pengaruh yang luas dalam opini publik.

Dalam konteks budaya dan diskursus sosial, upaya untuk membahas rasisme secara lebih kritis mulai berkembang. Pada April 2020, jurnalis Nadeesha Uyangoda meluncurkan podcast Sulla razza (“Tentang Ras”), yang berfokus pada isu-isu ras dan rasisme. Podcast ini berupaya menerjemahkan serta menjelaskan kosakata yang umum digunakan dalam diskursus ras di dunia Anglo-Amerika—sebuah kekurangan linguistik yang menurut Uyangoda menghambat perkembangan percakapan publik mengenai rasisme di Italia. Inisiatif ini menjadi bagian dari gelombang baru upaya untuk mendefinisikan kembali cara masyarakat Italia memahami identitas, diskriminasi, dan keberagaman.[10]

Referensi

sunting
  1. "Italy's colonial amnesia". www.ips-journal.eu (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2025-10-03. Diakses tanggal 2025-11-09.
  2. brill.com https://brill.com/display/book/9781848883833/BP000005.xml. Diakses tanggal 2025-11-09. {{cite web}}:
  3. crocotears (2025-06-11). "ANTISEMITISM - Stereotypes and ignorance, Eurispes's survey on Italy and the Jewish world". Pagine Ebraiche International (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-09.
  4. "Pietro Badoglio | World War I, Prime Minister, Marshal | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). 2025-10-28. Diakses tanggal 2025-11-09.
  5. "Salò Republic Collection". Special Collections - University of Reading (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-11-09.
  6. Musella, Luigi (2003-05). "John Dickie, Darkest Italy. The Nation and Stereotypes of the Mezzogiorno, 1860–1900, Macmillan, London, 1999, ISBN 0333802187 hbk, £30". Modern Italy. 8 (1): 119–122. doi:10.1017/s1353294400013065. ISSN 1353-2944. {{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  7. "Clandestino". Treccani (dalam bahasa Italia). Diakses tanggal 2025-11-09.
  8. Musella, Luigi (2003-05). "John Dickie, Darkest Italy. The Nation and Stereotypes of the Mezzogiorno, 1860–1900, Macmillan, London, 1999, ISBN 0333802187 hbk, £30". Modern Italy. 8 (1): 119–122. doi:10.1017/s1353294400013065. ISSN 1353-2944. {{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  9. "Più della metà degli italiani giustifica il razzismo". TPI (dalam bahasa Italia). 2019-11-12. Diakses tanggal 2025-11-09.
  10. 1 2 Media, Common (2021-10-21). "In Europe, Podcasters of Color Make Their Own Space for Conversations on Race". Nieman Reports (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-09.