Nugal adalah tradisi menanam padi secara turun-temurun yang dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak di Kalimantan Barat. Tradisi ini memiliki makna sosial, spiritual, dan edukatif yang kuat, serta menjadi bagian penting dari sistem pertanian tradisional. Dalam konteks budaya Dayak Sekubang, nugal dimaknai sebagai kegiatan menanam padi di ladang yang dilakukan secara bersama-sama untuk mempererat hubungan sosial dan menanamkan nilai gotong royong.[1]

Secara etimologis, istilah nugal berarti kegiatan melubangi tanah menggunakan tongkat kayu runcing untuk menanam benih padi. Pada beberapa komunitas Dayak, seperti Dayak Kubint, istilah bejopai nugal mengandung makna bekerja sama atau bergotong royong dalam proses menanam padi.[2]

Ritual dan Tahapan

sunting

Pelaksanaan nugal umumnya diawali dengan pemberkatan benih dan alat-alat pertanian yang digunakan. Upacara ini bertujuan memohon berkat agar benih tumbuh subur dan panen melimpah. Selanjutnya dilakukan pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki membuat lubang di tanah menggunakan tongkat (seken), sedangkan perempuan menabur benih ke dalam lubang-lubang tersebut. Tahap terakhir adalah ngumpan gana tanah arai, yaitu memberikan persembahan kepada roh-roh tanah dan air sebagai bentuk penghormatan serta untuk menghindari gangguan terhadap hasil panen.[2]

Dalam komunitas Dayak Sebaruk, proses nugal dilakukan dua atau tiga hari setelah pembakaran lahan (bakar ladang). Benih dibawa menjelang matahari terbit menggunakan wadah tradisional temungan, yang diyakini menyimpan semangat padi. Sebelum ditanam, benih diolesi darah atau telur ayam untuk memperkuat “jiwa padi” dan melindunginya dari hama.[3]

Nilai Sosial dan Keagamaan

sunting

Tradisi nugal memperlihatkan nilai-nilai sosial seperti kebersamaan dan solidaritas. Setiap orang berpartisipasi sesuai kemampuannya tanpa memandang status sosial. Kegiatan ini mempererat hubungan antarwarga sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Pada suku Dayak Kubint, nugal juga mengandung dimensi religius. Pemberkatan benih menegaskan keyakinan bahwa Allah merupakan sumber segala berkat; pembagian tugas mencerminkan ajaran bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi; sedangkan praktik ngumpan gana tanah arai menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara kepercayaan tradisional dan iman Katolik. Dalam konteks ini, masyarakat menghadapi tantangan untuk memadukan ajaran Gereja dengan tradisi leluhur tanpa menghilangkan makna spiritual dan nilai budaya.[2]

Nugal merefleksikan pandangan hidup masyarakat Dayak yang memuliakan alam sebagai sumber kehidupan. Kegiatan ini menjadi sarana spiritual, sosial, dan edukatif yang meneguhkan relasi manusia dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi tersebut terus dipertahankan sebagai identitas budaya Kalimantan Barat dan menjadi inspirasi bagi integrasi pendidikan, lingkungan, serta nilai religius dalam kehidupan masyarakat modern.[1]

Rujukan

sunting

Referensi

sunting
  1. 1 2 Valentinus Doddy; Tahmid Sabri; Ardi Dwi Susandi. (2025). "Pengembangan E-Modul Berbasis Kurikulum Merdeka pada Tradisi Nugal Suku Dayak Sekubang untuk Siswa Kelas VI SDN 47 Sinar Kasih." Vox Edukasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 16(1), 121–127.
  2. 1 2 3 Monika Anisa Putri; Martinus; Herkulanus Pongkot. (2025). "Allah Dalam Budaya Bejopai Nugal (Nilai-Nilai Keilahian dalam Budaya Bejopai Nugal Suku Dayak Kubint)." Broneo review, 3(2), 57-63. https://doi.org/10.52075/br.v3i2.477
  3. Dian, Mariani. (2021). "Aspek matematis dalam tradisi nugal masyarakat Suku Dayak Sebaruk Daerah Jentawang, Ketungau Hilir, Kalimantan Barat." Ethnomathematics Journal, 2(1), 38–42.