Krisis identitas
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Januari 2023) |
Krisis identitas merupakan peristiwa perkembangan yang melibatkan seseorang mempertanyakan diri sendiri atau keberadaan mereka di dunia. Konsep ini berasal dari karya psikolog perkembangan Erik Erikson yang percaya bahwa pembentukan identitas adalah salah satu konflik terpenting yang dihadapi orang. Faktor-faktor tersebut termasuk masalah kesehatan, stres, dan dukungan sosial. Memiliki kondisi kesehatan mental seperti depresi, gangguan bipolar, dan gangguan kepribadian ambang juga dapat meningkatkan kemungkinan mengalami krisis identitas.
Terdapat empat status identitas :
- Identity Diffusion, pada status ini individu belum mengalami krisis dan belum membuat komitmen. Remaja dalam status ini belum memutuskan mengenai pilihan pekerjaan atau ideologis dan juga tidak menunjukkan minat terhadap hal tersebut.
- Identity Foreclosure, pada status ini individu sudah membuat komitmen, tetapi belum mengalami krisis. Hal ini sering terjadi ketika orang tua memaksa komitmen tertentu dengan cara otoriter sementara anak remaja tersebut belum mengeksplorasi berbagai pendekatan ideologi atau kariernya.
- Identity Moratorium, pada status ini remaja tengah menggalami masa krisis tetapi belum memiliki komitmen yang jelas atau masih kabur.
- Identity Achievement, pada status ini remaja sudah melalui krisis dan sudah sampai pada sebuah komitmen.
Menurut negara
suntingIndonesia
suntingDalam ranah ilmu sosial dan psikologi, krisis identitas di Indonesia dapat dikaji sebagai fenomena kompleks yang berakar dari benturan antara nilai-nilai tradisional dan arus modernitas. Krisis ini terbagi dalam beberapa manifestasi, yang pertama adalah krisis identitas generasional. Generasi muda sering kali berada pada persimpangan antara norma budaya warisan dan adopsi gaya hidup global, yang disebarkan melalui teknologi informasi. Pertentangan ini dapat berujung pada kebingungan akan tujuan hidup dan tempat mereka dalam tatanan sosial. [1]Kedua, krisis identitas budaya terlihat dari kecenderungan masyarakat, terutama di wilayah perkotaan, untuk menginternalisasi budaya asing hingga mengabaikan warisan lokal. [2]Fenomena ini berpotensi mengikis identitas budaya nasional dan menyebabkan penurunan minat pada seni, bahasa, serta tradisi adat. [3]Ketiga, krisis identitas profesional muncul akibat pesatnya perubahan lanskap karier dan tuntutan teknologi. Ketidakpastian akan relevansi keterampilan pribadi memicu pertanyaan eksistensial tentang peran dan kontribusi mereka dalam masyarakat. [4]Terakhir, krisis identitas kolektif mengancam kesatuan bangsa, di mana kelompok-kelompok tertentu merasa identitas mereka tidak terwakili dalam narasi nasional yang lebih luas, sehingga berpotensi memicu ketidakstabilan sosial. [5]
Referensi
sunting- ↑ "pluralisme, multikulturalisme, dan batas-batas toleransi" (PDF).
- ↑ Dewi, Anggita Asifa; Hidayati, Dinda Annisa Nur; Putri, Distira Eka Maila Puspita (2023-12-21). "Krisis Identitas Nasional pada Generasi Muda di Era Globalisasi". Indigenous Knowledge. 2 (4): 332–338. ISSN 2746-3662.
- ↑ santo (2024-07-31). "Dampak Globalisasi terhadap Kearifan Lokal". Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Medan Area adalah Program Studi Ilmu Pemerintahan Terbaik di Sumatera Utara. (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-02.
- ↑ "Resiliensi Ilmu" (PDF).
- ↑ "MEMINIMALISASI DAMPAK NEGATIF POLITIK IDENTITAS GUNA TERWUJUDNYA KONSOLIDASI DEMOKRASI DALAM RANGKA KEUTUHAN NKRI" (PDF).
- ↑ Sunuhadi, Bani (Oktober 2013). "STATUS IDENTITAS REMAJA DENGAN LATAR BELAKANG KELUARGA ETNIS JAWA DAN TIONGHOA". Diarsipkan dari [file:///C:/Users/Thosiba/Downloads/2136-Article%20Text-4260-1-10-20131024.pdf asli] (PDF) tanggal 2013-08-12. Diakses tanggal 2022-02-25. ; ; ;