Ahmad Soedarsono (9 Mei 1928  13 Maret 1982) adalah seorang penerbang angkatan laut dan diplomat Indonesia yang menjabat sebagai duta besar Indonesia untuk Vietnam dari tahun 1980 hingga meninggal pada tahun 1982. Lulusan Sekolah Tinggi Angkatan Laut Kerajaan dan program pelatihan penerbangan RAF Tern Hill, Ahmad juga pernah menjabat sebagai anggota parlemen dari tahun 1964 hingga 1968 serta atase militer untuk India dari tahun 1971 hingga 1974.

Ahmad Soedarsono
Duta Besar Indonesia untuk Vietnam
Masa jabatan
19 Januari 1980  13 Maret 1982
PresidenSuharto
Sebelum
Pendahulu
Hardi
Sebelum
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Masa jabatan
30 Januari 1964  13 Februari 1968
Informasi pribadi
Lahir(1928-05-09)9 Mei 1928
Surakarta, Hindia Belanda
Meninggal13 Maret 1982(1982-03-13) (umur 53)
Singapore
MakamMakam Pahlawan Kalibata
Suami/istriKarlina Koesoemadinata
Anak5, termasuk Bambang Harymurti
AlmamaterSekolah Tinggi Angkatan Laut Kerajaan
Karier militer
PihakIndonesia
Dinas/cabangTentara Nasional Indonesia Angkatan Laut
PangkatLaksamana pertama
SatuanPenerbangan angkatan laut
Pertempuran/perangRevolusi Nasional Indonesia
Sunting kotak info
Sunting kotak info L B
Bantuan penggunaan templat ini

Karier militer

sunting

Ahmad lahir pada 9 Mei 1928 di Surakarta. Selama Revolusi Nasional Indonesia, ia bergabung dengan korps tentara pelajar di bawah komando Mayor Achmadi Hadisoemarto (yang kemudian menjadi menteri penerangan), di mana ia bertugas di Surakarta. Meskipun menjalani dinas militer, ia tetap melanjutkan pendidikannya dan menyelesaikan sekolah menengah atas pada tahun 1948. Setelah berakhirnya perang pada tahun 1950, ia dikirim ke Belanda untuk menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Angkatan Laut Kerajaan. Meskipun pada awalnya direncanakan untuk mengikuti pelatihan penerbangan angkatan laut, departemen penerbangan angkatan laut di akademi tersebut tiba-tiba ditutup dan Ahmad kemudian melanjutkan pendidikannya sebagai pelaut.[1]

Setelah menyelesaikan pendidikannya di akademi angkatan laut pada tahun 1953, Ahmad mengikuti pelatihan navigator di Valkenburg selama satu tahun. Ia kemudian kembali ke dinas angkatan laut dan ditempatkan sebagai perwira navigator di atas KRI Banteng. Setelah itu, ia bertugas di biro perencanaan angkatan laut dan biro korps udara sebelum mengikuti program pelatihan pilot di pangkalan udara RAF Tern Hill dari tahun 1957 hingga 1959.[1] Dalam suatu periode selama dinas angkatan lautnya, Ahmad juga mengikuti kursus intelijen di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung.[2]

Karier politik dan diplomat

sunting

Pada 30 Januari 1964, Ahmad, yang berpangkat letnan kolonel, dilantik sebagai perwakilan Angkatan Laut di Dewan Perwakilan Rakyat. Ia menggantikan komodor Manonga Napitupulu yang diangkat sebagai wakil kepala staf Komando Daerah Sumatra. Ia tetap mempertahankan jabatannya setelah perubahan kepemimpinan nasional yang menggulingkan Presiden Sukarno. Ia diberhentikan dari jabatannya setelah digantikan oleh kolonel laut Abdul Basit pada 13 Februari 1968.[3]

Tiga tahun setelah masa jabatannya di parlemen, dari tahun 1971 hingga 1974 ia menjabat sebagai atase militer di kedutaan besar di New Delhi, India. Pada tahun 1977, ia bergabung dengan kementerian luar negeri sebagai direktur Asia Pasifik, di mana ia memainkan peran penting dalam perundingan antar-ASEAN dan hubungan bilateral dengan negara-negara Asia Pasifik.[2] Ia terlibat aktif di balik layar dalam upaya Soeharto untuk meredakan permusuhan antara Pakistan dan Bangladesh[4] serta dalam penyelesaian masalah perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini.[5] Direktur jenderal protokol Joop Ave menggambarkannya sebagai "seorang pekerja keras yang disukai oleh rekan-rekannya di kementerian luar negeri".[2]

Dari kementerian luar negeri, Ahmad kemudian dipromosikan menjadi duta besar Indonesia untuk Vietnam, dan dilantik pada 19 Januari 1980.[6] Pada suatu kesempatan, saat bermain tenis dengan atase militernya Soegito, Ahmad mengeluhkan sakit punggung. Setelah beberapa pemeriksaan medis di Hanoi dan Bangkok, diketahui bahwa Ahmad menderita kanker stadium lanjut. Menteri luar negeri Mochtar Kusumaatmadja, yang mengizinkannya mencari pengobatan di Belanda, memintanya untuk mengundurkan diri karena kondisi kesehatannya, tetapi Ahmad menolak dan menyatakan bahwa ia ingin "meninggal dalam tugas".[7] Kondisi kesehatannya semakin menurun dalam perjalanan menuju Hanoi setelah menghadiri konferensi para duta besar yang bertugas di negara-negara Asia pada Februari 1982, dan ia meninggal pada 13 Maret tahun tersebut saat menjalani perawatan di Singapura. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sehari setelah kematiannya dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh menteri kehakiman Ali Said. Pada saat meninggal, ia berpangkat laksamana pertama.[2]

Penghargaan

sunting

Sepanjang masa dinas militer dan sipilnya, Ahmad menerima sejumlah medali dari pemerintah Indonesia: [1]

Kehidupan pribadi

sunting

Ahmad menikah dengan Karlina Koesoemadinata, putri dari ahli musik Sunda Raden Machjar Angga Koesoemadinata. Pasangan tersebut memiliki lima orang anak, termasuk Bambang Harymurti, yang kemudian menjadi jurnalis dan pemimpin redaksi Tempo.[8]

Referensi

sunting
  1. 1 2 3 Rajawali laut: 50 tahun penerbangan TNI Angkatan Laut. Panitia Penyusun Buku Sejarah Penerbangan AL bekerja sama dengan Red & White Pub. 2006. hlm. 12–17. ISBN 978-979-1008-00-6.
  2. 1 2 3 4 "Meninggal dunia" [Passed away]. Tempo.co. March 20, 1982. Diakses tanggal February 12, 2026.
  3. Tim Penyusun Sejarah (1970). Seperempat Abad Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia [A Quarter Century of the People's Representative Council of the Republic of Indonesia]. Jakarta: Sekretariat DPR-GR. hlm. 672, 688.
  4. Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam berita: 1979-1980. Antara Pustaka Utama. 2008. ISBN 978-979-9258-26-7.
  5. Negeri, Indonesia Departemen Luar (1979). Pewarta Departemen Luar Negeri RI. Pusat Dokumentasi dan Perpustakaan, Badan Penelitian dan Pengembangan Masalah Luar Negeri, Departemen Luar Negeri RI. hlm. 87.
  6. Tim Penyusun Sejarah (1970). Seperempat Abad Dewan Perwakilan Rakjat Republik Indonesia (PDF). Jakarta: Sekretariat DPR-GR. hlm. 672, 688. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2023-04-07. Diakses tanggal 2022-06-06.
  7. Adrian, Beny (2015-08-01). Letjen (Pur) Soegito, Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen (dalam bahasa Inggris). Atala Publishers. ISBN 978-979-23-6071-4.
  8. Urip Hudiono (18 September 2004). "Bambang: If we lack credibility or integrity, we are worthless". The Jakarta Post. Diakses tanggal 3 June 2011.